Thursday, August 14, 2008

Bush Kecam Invasi Rusia ke Georgia

Presiden AS George Walker Bush mengecam keras penyerbuan tentara Rusia ke Georgia. Menurut Bush, invasi tersebut tidak bisa dibenarkan karena melanggar kedaulatan negara lain serta mengancam kemanusiaan. Bersama Inggris Bush mendesak Rusia menarik pasukannya dari negara tersebut.

Berita yang saya lihat di layar CNN beberapa hari lalu benar-benar membuat saya tergelak. Lucu karena apa yang dipertontonkan Bush dalam pidato yang diliput wartawan dari pelbagai media massa tersebut nyata-nyata menunjukkan betapa dungu pemimpin Negara Adikuasa ini. Dungu karena orang di seluruh muka bumi yang menyaksikan tayangan tersebut akan langsung mengingat Irak, negara yang kini hancur lebur karena diserbu AS.

Benar, Rusia tidak terpuji menyerang negara tetangganya. Namun apa yang dilakukan AS di Irak sunguh sangat biadab. AS menyerang dan menghancurkan Irak. Setelah hancur, rakyat Irak terlibat perang saudara. Bom meledak di mana-mana setipa jam dalam setiap hari. Apa yang dialami rakyat Irak pasca serangan tentara AS adalah tragedi atas nilai-nilai kemanusiaan.

Belum lagi negara lain korban AS sebelum Irak, semisal Afghanistan, yang bentuknya saja sudah tidak karuan akibat bom yang meluluhlantakkan negeri gurun penghasil opium tersebut. Pemicunya sederhana, Bush berpendapat negara tersebut menyembunyikan Osama bin Laden yang dituduh berada di balik serangan atas menara kembar WTC di New York dulu sehingga pantas dibom dan dihancurkan.

Bush memang busuk, karena apa yang keluar dari mulutnya selalu berbau tidak sedap. Mengecam aksi serangan yang dilakukan negara lain, sementara dirinya tidak pernah segan memerintahkan serdadunya menyerbu atau mengebom negara lain. Bush tidak peduli serbuan tentaranya menyebabkan kerusakan tak terperi dan kematian jutaan rakyat yang tidak pernah melakukan kesalahan apa pun terhadap Amerika atau bahkan kepada Bush...

***

Wednesday, July 16, 2008

Menjadi Ibu Rumah Tangga, Berani?

Dilema perempuan yang memilih berkarir sebagai ibu rumah tangga atau di luar rumah selalu saja aktual. Sahabat bernama Bayu "Gaw" Gawtama, CEO School of Life - SOL) berbagi cerita dengan kita di sini, tentang perempuan yang memilih meninggalkan karir cemerlang di sebuah perusahaan karena ingin bekerja "full-time" sebagi ibu rumahtangga di rumah...
Pengunjung Warung-Abah yang baik hati, selamat menikmati "olah kata" Gaw berikut ini...

***

Seorang sahabat mengungkapkan rencananya untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempat kerjanya. Ia merasa tidak takut meninggalkan karirnya yang sudah belasan tahun dirintisnya dari bawah. “sayang juga sebenarnya, dan ini merupakan pilihan yang berat, terlebih ketika saya merasa sudah berada di puncak karir,” ujarnya.

Lalu kemana setelah resign? “yang ada di pikiran saya saat ini hanya satu, menjadi ibu rumah tangga. Sudah terlalu lama saya meninggalkan anak-anak di rumah tanpa bimbingan maksimal dari ibunya. Saya sering terlalu lelah untuk memberi pelayanan terbaik untuk suami. Bahkan sebagai bagian dari masyarakat, saya sangat sibuk sehingga hanya sedikit waktu untuk bersosialisasi dengan tetangga dan warga sekitar”

Tapi, ibu nampaknya masih ragu? “bukan ragu. Saya hanya perlu menata mental sebelum benar-benar mengambil langkah ini”.
“Rasanya masih malu jika suatu saat bertemu dengan teman-teman sejawat atau rekan bisnis. Saya belum menemukan jawaban yang pas saat mereka bertanya, “sekarang Anda cuma jadi ibu rumah tangga?”

Saya tersenyum mendengarnya, mencoba memahami kesesakan benaknya saat itu. Teringat saya dengan seorang sahabat lama yang saat di sebuah forum wanita karir di Jerman lantang menjawab, “profesi saya ibu rumah tangga, jika diantara para hadirin ada yang mengatakan bahwa ibu rumah tangga bukan profesi, saya bisa menjelaskan secara panjang lebar betapa mulianya profesi saya ini dan tidak cukup waktu satu hari untuk menjelaskannya”.

Luar biasa. Sekali lagi luar biasa. Saya harus hadiahkan acungan jempol melebihi dari yang saya miliki untuk sahabat yang satu ini. Saya tuturkan kisah ini kepada sahabat yang sedang menata hati meyakinkan diri untuk benar-benar menjadi ibu rumah tangga, bahwa ia takkan pernah menyesali pilihannya itu. Kelak ia akan menyadari bahwa langkahnya itu adalah keputusan terbaik yang pernah ia tetapkan seumur hidupnya.
Naluri setiap wanita adalah menjadi ibu. Adakah wanita yang benar-benar tak pernah ingin menjadi ibu?
Percayalah, pada fitrahnya wanita akan lebih senang memilih berada di rumah mendampingi perkembangan putra-putrinya dari waktu ke waktu. Menjadi yang pertama melihat si kecil berdiri dan menjejakkan langkah pertamanya.
Ia tak ingin anaknya lebih dulu bisa berucap “mbak” atau “bibi” ketimbang ucapan “mama”. Tak satupun ibu yang tak terenyuh ketika putra yang dilahirkan dari rahimnya lebih memilih pelukan baby sitter saat menangis mencari kehangatan.
Ibulah yang paling mengerti memberikan yang terbaik untuk anaknya, karena ia yang tak henti mendekapnya selama dalam masa kandungan. Sebagian darahnya mengalir di tubuh anaknya. Ia pula yang merasakan perih yang tak tertahankan ketika melahirkan anaknya, saat itulah kembang cinta tengah merekah dan binar mata ibu menyiratkan kata, “ini ibu nak, malaikat yang kan selalu menyertaimu”.

Cintapun terus mengalir bersama air kehidupan dari dada sang ibu, serta belai lembut dan kecupan kasih sayang yang sedetik pun takkan pernah terlewatkan.
Ibu akan menjadi apapun yang dikehendaki. Pemberi asupan gizi, pencuci pakaian, tukang masak terhebat, perawat di kala sakit, penjaga malam yang siap siaga, atau pendongeng yang lucu. Kadang berperan sebagai guru, kadang kala jadi pembantu. Jadi apapun ibu, semuanya dilakukan tanpa bayaran sepeserpun alias gratis.
Sahabat, bukan malu atau bingung saat harus berhadapan dengan rekan bisnis. Katakan dengan bangga baru sebagai ibu rumah tangga. Sebab sesungguhnya, mereka pun sangat ingin mengikuti jejak sahabat, hanya saja mereka belum mengambil keputusan seperti sahabat. Tersenyumlah karena anak-anak pun bangga dengan langkah terbaik ibunya. –Gaw, 2008-

Thursday, July 03, 2008

Nah, ini dia...

Kea'zia Yasmina Frida
Dik Frida, kami memanggilnya. Sebetulnya setelah adiknya, Rayya Aisha lahir dia ingin dipanggil Teh Frida. Kok nggak dipanggil mbak Frida?

"Males ah, enakkan teh Frida aja," tegasnya.

Frida lahir di Jakarta 7 November 2001. Entah karena kesamaan bulan lahir --November--atau karena memang sudah satu sifat anak dan bapak (like father like daughter), Frida dan sang abah memiliki beberapa kemiripan baik sifat maupun selera .

Frida Senang musik, abahnya juga. Nasyid suka, musik pop jadul juga oke. Dik Frida mudah "pundung" (ngambek), abahnya juga mutungan. Dik Frida sayang sama Umminya, abahnya juga (oooppss...jangan ge-er dulu ya Ummi Nur)


Frida juga suka menari. Abahnya suka joget ala pendekar mabuk (drunken master). Kalau di rumah, kami bisa berlama-lama lenggak-lenggok menari dengan gaya aneh sekenanya diiringi musik dari MP3 player. Tarian kami bebas 'aja. Kadang gaya 'mencuci baju', kadang meniru Kadir lengkap dengan aksi "merem-melek", atau adegan 'mencangkul di sawah'...Pokoknya seru dan bikin capek deh! Dan yang terpenting, jangan ada yang melihat, karena ini tarian khusus kami sekeluarga...Orang lain, punten, tidak boleh tahu kami joget... Yang jelas, kami belum berhenti berjoget kalau UmmiNur belum tertawa...

Oya, sebelum dik Rayya lahir, dik Frida punya pipi tembem, ketembeman pipinya dibanding pa***t bedanya tipis. Makanya abah suka tanya sama dik Frida, "dik, ini pipi apa pa***t?" Wak..kak..kak...Habis itu mendarat deh ini muka di pipinya yang mentul-mentul... mmuah kenceng sampai adik nangis bombay...

Sayangnya, belakangan batuk-batuk dik Frida kembali kumat. Selera makannya menurun drastis. Makan agak banyak langsung mual dan muntah. Jadinya dik Frida mirip burung Kutilang (kurus, tinggi, langsing). Padahal, Umminya malah tambah melaaar ke samping... wak..kak..kak... maaf ya mi, abah kan ngga bilang Ummi gendut, cuma melebar ke samping... he..he...

Jujur saja, dik Frida punya raut wajah manis. Malah kalau berjilbab dik Frida juga jauh lebih cantik, ngga cuma manis... (Deu...namanya juga anaknya, siapa lagi yang memuji kalau bukan abahnya.. tul ga sodara-sodara?). Lha, tapi Frida juga pede abis. Coba aja tanya, apa adik cantik? Pasti jawabannya "cantik...!"

Dik Frida atau Teh Frida juga cerdas. Meski masih agak-agak lugu khas balita, di kelas termasuk cukup menonjol prestasi belajarnya. Kenaikan kelas kemarin raportnya bagus, dapat ranking ke-3. Yah, turun sih, semester awal rankingnya ke-2, tapi lumayan lah.

"Daripada ranking lima atau bahkan sepuluh, masih mending ranking tiga kan bah?" kata Frida ngeles.
Benar juga sih dik. Lagi pula, ranking tiga bukan hal buruk. Insya Allah, jika belajarnya lebih giat lagi ranking pertama pun bukan hal sulit buat adik cantik. Nanti kalau kelas dua nilai raport dan rankingnya lebih bagus lagi ya.. Tambah rajin belajar, ngocolnya dikurangi, jangan keseringan main Barbie... Abah sayang banget sama adik...I Love You....
mmmmmuuaaaachhhh...
Haidar Zein
Nah, kalau yang ini tentang kakaknya dik Frida, namanya Haidar Zein. Gayanya kalau di rumah paling kalem (woalah...tambah gede tuh hidung dibilang kalem... Maksudnya Kayak Lembu Mrongos ngos Aa...). Apalagi kalau pas ada film CARS di Astro TV. Dijamin si Aa jadi anteng, camilan pasti ludes. Remote control juga sudah pasti tambah basah diemut habis..wak..kak...kak...

Berbeda dengan adiknya, Haidar atau biasa disapa Aa Zen, tidak begitu suka berbasa-basi. Perhatiannya pada segala jenis mobil sangat besar. Maunya hapal semua merek mobil. Mainan pun kebanyakan mobil-mobilan...Mulai yang warnanya kinclong kayak McQueen hingga yang bulukan dan berkarat kayak si Tow Matter dan mobil karatan gerombolan mobil Rusteeze...he..he...(btw, kenal nama-nama tsb kan? Itu tuh, tokoh-tokoh di film the CARS produksi PIXAR-Disney).

Alhamdulillah, Aa Zen juga termasuk pandai di sekolahnya. Meski seperti dik Frida, ranking Aa pas kenaikan kelas juga melorot ke urutan 4 dari ranking 3 di semester awal. Tapi tidak perlu berkecil hati lah yaw. Aa sebetulnya pintar. Namun penyakit bengong dan ngowohnya itu lho yang mesti dikurangi...

Aa Zein agak acuh tak acuh. Jangan pernah bertanya dua kali untuk hal yang sama kepada Aa Zein. Bisa dicuekin 'abis... Meski begitu, Aa sangat sayang sama kedua adiknya. Yah, kalau soal usil sama adiknya itu mah biasa. "Asal jangan keseringan aja ya A...bisa rame atuh..."

Haidar termasuk anak tipe "fast learner", diajari apa aja cepat mengerti. Andai sifat cueknya dikurangi, bisa jadi dia akan selalu ranking pertama di kelasnya. Beneran loh, kagak nyombong..


Dia juga suka sekali main game, baik di komputer atau laptop maupun di gamewatch dua puluh rebu perak yang dibeli di warung Abah Aen (ini bukan Abah Epoy, sama-sama panggilannya abah, tapi beda banget). Dalam hal ini si abah agak segan mengenalkan Aa dengan Playstation. Bisa addict, 'ngeri deh...ntar si abah tambah dicuekin kalau Aa sudah kecanduan PS...

Nah, kalau di bawah ini foto Rayya Aisha di usia enam bulan. Dik Aya, ini panggilan sayang kami di rumah, lahir 24 Desember 2007. Subhannallah...semakin hari Aya semakin lucu aja. Ketawanya, ulahnya kalau lagi ngangkat kaki berulang ulang, atau gayanya pas berguling cepat... membuat kami betah berlama-lama di dekat dik Aya...

Tapi kalau punya buku bagus jangan dekat-dekat dik Aya. Sebab si bungsu ini punya kebiasaan buruk ngemut buku atau apa saja sampai meleleh basah...Selebihnya hanya lucu dan kocak yang kami temui pada diri dik Aya...

Dulu kalau lagi bete di rumah, paling muring-muring, atau pergi naik motor cari makanan ringan. Belakangan, kalau lagi jengkel si abah sudah punya solusi. Main saja sama Aya, tatap ekspresi wajahnya yang lucu. Dijamin kemarahan mereda.

Ya Allah, ya Rabb...limpahkanlah keberkahan kepada keluarga kami. Jadikan kami orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat dari-Mu. Tempatkanlah kami bersama orang-orang yang senantiasa tawakal di jalan yang engkau ridhoi...
amiin...

Thursday, June 12, 2008

Bersama Kita Bisa Sama-sama Konyol

Sudah menjadi hukum alam, sebuah aksi akan mengundang reaksi. Aksi konyol direspon dengan kekonyolan, hanya akan menimbulkan rentetan kekonyolan baru. Demikian yang terjadi belakangan ini.

Kekonyolan pertama dipertontonkan sekelompok orang yang mengaku pendukung kebebasan beragama berbendera AKKBB menggelar aksi menentang pelarangan Ahmadiyah. Mereka menganggap Ahmadiyah bukan sekte sesat dan patut dibela. Konyol karena sebagian dari mereka bukan penganut Islam, namun merasa tahu soal urusan Ahmadiyah. Mereka konyol mencampuri internal umat Islam yang tengah resah karena penistaan ajaran Islam oleh penganut Ahmadiyah.

Kekonyolan ini mengundang kekonyolan kedua; aksi pemukulan oleh kelompok massa FPI. Kedua kelompok berseberangan pendapat, namun konyolnya, yang diperagakan aksi kekerasan fisik (kasusnya dipopulerkan media massa sebagai peristiwa Monas).

Ini menimbulkan kekonyolan baru; peliputan media massa cetak, internet, dan elektronik secara berlebihan. Semua media, besar maupun gurem melaporkan peristiwa Monas dalam headline mereka setiap hari. Para wartawan, seakan tengah didera wabah “mati angin”, melaporkan peristiwa Monas dari pelbagai aspek setiap hari. Tidak ketinggalan kelompok infotainment, semua menempatkan kasus ini sebagai fokus liputan. Koran dengan pendapatan iklan terbesar hingga tabloid yang “terbit Senin-Kamis” setiap hari mem-“blow-up” peristiwa Monas sebagai headline berhari-hari.

Ini bentuk kekonyolan yang dipamerkan media massa. Demikian pula stasiun teve, mulai dari yang bertabur iklan, hingga stasiun teve yang megap-megap mengais iklan, rame-rame mengulang tayangan peristiwa Monas di layar kaca. Mereka juga konyol, sebab sebetulnya masih banyak peristiwa lain yang patut mendapat tempat terhormat sebagai headline, misalnya dampak kenaikan BBM yang berpotensi memicu krisis ekonomi, nasib korban Lapindo, atau penanganan kasus korupsi.

Karena media massa secara konyol mencurahkan seluruh ruang untuk meliput habis-habisan peristiwa ini, muncul kekonyolan susulan. Yakni reaksi pemerintah yang berlebihan dan tidak masuk akal; Presiden, Wapres, menteri, anggota DPR, hingga Kapolri angkat bicara, bahkan sampai menggelar rapat khusus seakan-akan tengah membahas wabah ganas yang mengancam nasib jiwa seluruh jagat Indonesia.

Reaksi pejabat bisa dimaklumi, karena sudah tabiat mereka; hanya sudi merespon apa-apa yang tengah dipopulerkan media massa. Konyol karena para petinggi dan pejabat negara jadi tampak dungu dan seperti kurang kerjaan saling bersahutan angkat bicara menyoal peristiwa Monas. Mungkin pula mereka antusias demikian karena berharap dengan rame-rame konyol masyarakat menjadi lupa dampak kenaikan BBM.

Cukupkah sampai di sini semua kekonyolan itu? Rupanya belum, karena ada kekonyolan tambahan; sekelompok tokoh lokal tingkat kampung dan kecamatan tidak ingin ketinggalan bersikap konyol dengan mengerahkan pasukan jin dan laskar kebal senjata tajam untuk membubarkan FPI. Soal apa salah dan dosa FPI itu urusan belakangan, yang penting ikut-ikutan serbu, meski tampak konyol. Toh, panutan mereka di pusat juga sudah lebih duluan konyol.

Sementara di jalanan, di kampung-kampung, di pelosok kota, orang masih dengan penampilan seperti sebelum peristiwa Monas terjadi. Mereka kian lusuh, tatapan mata mereka juga semakin hampa akibat didera kesulitan hidup pasca naiknya harga BBM. Demikian pula di Porong, Jawa Timur sana, ribuan pengungsi korban banjir lumpur panas Lapindo semakin tidak mengerti mengapa para pejabat lebih riuh bersahutan membahas peristiwa Monas ketimbang serius memikirkan solusi atas nasib mereka. Rakyat pinggiran, mereka itu, juga bingung mengapa media massa lebih bernafsu mengupas peristiwa Monas. Apakah wartawan telanjur penat memberitakan nasib buruk mereka yang didera pelbagai kesulitan ekonomi?

Sungguh, nyata dan terang benderang benar, sebuah kekonyolan yang direspon kekonyolan lain senantiasa hanya akan menghasilkan bentuk kekonyolan baru, bahkan kedunguan. Ayo, siapa menyusul menciptakan kekonyolan lain? Bersama kita memang bisa sama-sama konyol dan dungu.

Thursday, April 24, 2008

Kata Dia, "SBY pinter nyanyi kok dikritik..."

Seorang pengusaha jamu menulis opini di koran. Ia menyayangkan masyarakat yang mengritik Presiden SBY karena lebih mementingkan membikin album lagu tatkala warga Porong, Sidoarjo, dibekap lumpur panas Lapindo.

Para pengritik, demikian sang tokoh mengulas, tidak bisa menghargai seni. SBY memiliki kepedulian menyalurkan bakat seni, mestinya diapresiasi tinggi. Apalagi tugas sebagai presiden sangat berat. Dia menyodorkan contoh para pemimpin dunia macam Ronald Reagan yang berlatar belakang aktor film ketika terpilih sebagai Presiden AS dulu. Rakyat AS, kata dia, sangat respek atas jiwa seni Reagan. Sederet contoh “pemimpin dunia berjiwa seni” disodorkannya untuk menguatkan pembelaannya pada Presiden yang pandai bernyanyi dan mencipta lagu.

Sayangnya, selain bertubi-tubi memuji SBY, penulis luput menyertakan bukti-bukti prestasi yang ditoreh Presiden. Alih-alih menyambut baik pengritik, penulis yang di setiap era selalu dekat dengan kekuasaan malah menuding rakyat tidak berjiwa seni dan tidak pandai menghargai Presiden yang pandai menyanyi dan mencipta lirik lagu.

Padahal, sebagaimana lazimnya kritik, apa yang meruyak di permukaan hanyalah lontaran pertanyaan sederhana. Yang diperlukan juga tidak banyak, cukup jawaban yang masuk akal. Bukan bersahut kritik apalagi lontaran cemooh. Dari sini, kalau memang benar penulis pengagum Presiden yang pandai menyanyi, jawab saja pertanyaan; sebegitu banyak waktu yang dimiliki SBY sehingga dia bisa menggarap album lagu bahkan hingga dua kali? Atau sebaliknya; sedemikian sibukkah sang Presiden hingga lumpur panas Lapindo luput dari perhatiannya?

Bukankah mereka yang terusir paksa dari desanya gara-gara banjir lumpur Lapindo juga rakyat SBY sama seperti penulis Opini yang pengusaha jamu? (Hati-hati lho, di antara ribuan rakyat terusir lumpur panas Lapindo bisa jadi ada konsumen setia jamu produksi perusahaan penulis..he..he...mana dong jiwa Customer Satisfaction anda wahai penulis nan budiman?)

Penulis mestinya mafhum, justru di kala SBY menyiapkan peluncuran album kedua, di media massa muncul berita seorang pedagang gorengan nekat bunuh diri karena tidak sanggup berdagang lagi akibat harga-harga tinggi. Di koran kabar kolaborasi rekaman musik SBY dengan Darma Oratmangun si penggubah lagu bersahut riuh dengan berita tentang antrean panjang jelata yang berharap dapat satu dua liter minyak tanah.

Belum lagi kasus gedung sekolah ambruk karena minimnya perawatan. Atau anak jalanan dan pengangguran yang bertambah berselang-seling dengan berita soal ancaman kelaparan akibat krisis pangan. Dalam perspektif ini sungguh sangat relevan menyoal lagak laku Presiden yang masih pede tampil di depan umum mendendangkan lagu (meski lagunya sendiri sangat idealis utopis memuja-muja kebesaran bangsa dan Tanah Air) sementara rakyat banyak hidup kesusahan bahkan untuk sekadar memenuhi kebutuhan mendasar.

Alhasil, unek-unek tokoh yang identik dengan humor dan Museum Rekor Indonesia (MURI) mudah dibaca sebagai tipikal serapah seorang penjilat yang tengah berupaya memikat hati sang Tuan yang tengah duduk nyaman di singgasana. Barangkali saja si Tuan yang dalam hal ini dipuji sebagai mahluk langka (Presiden Penyanyi dan Pencipta Lagu) ini berkenan dan bersedia dijadikan sahabat sang tokoh.

Udah ah...jadi kemana-mana...

Friday, February 22, 2008

Celana Melorot

Ini berita dari Amerika Serikat, negara yang dikenal sangat liberal. Kota Alexandria dan Shreveport dua kota di negara bagian Louisiana, AS membuat peraturan baru: melarang remaja putra dan putri mengenakan celana melorot di bawah pinggang yang memperlihatkan (maaf) celana dalam mereka.

Peraturan itu, tulis Kantor Berita AFP Prancis pekan lalu, diterima secara bulat. Larangan ini lahir setelah warga memprotes gaya berpakaian para remaja, yang berjalan dengan celana melorot di bawah pinggang itu. Gaya tersebut, menurut Konselor Kota Alexandria, Louis Marshall, tidak sopan.

Louis Marshall, yang hidup dalam tradisi demokrasi, beruntung. Pelarangan itu sama sekali tidak menuai protes. Tidak ada aktivis yang menyatakan peraturan tersebut melanggar hak asasi manusia, antipluralisme, dan konservatif.

Bayangkan jika di Indonesia, negara yang baru saja menghirup udara demokrasi. Louis Marshall akan dikecam dan dianggap telah membunuh kebebasan individu untuk berkreasi. Keputusan pelarangan tersebut bahkan akan diejek sebagai 'campur tangan pemerintah terhadap hak pribadi warga negara'.

Ini yang terjadi di Indonesia. Pada Desember 2004, seratus hari pemerintahannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan kegusarannya atas tayangan televisi. Melalui Menko Kesra Alwi Shihab ketika itu, Presiden yang kuat memegang norma agama dan sosial itu meminta media televisi untuk tidak mempertontonkan pusar perempuan. "Itu sangat mengganggu," kata Presiden saat itu.

Pernyataan SBY itu baru sebatas permintaan, belum menjadi keputusan. Namun, tidak terlalu lama berbagai reaksi dari kalangan aktivis perempuan bermunculan dalam diskusi-diskusi dan tulisan di media massa. Mereka antara lain menyatakan, SBY telah melanggar prinsip demokrasi, terhadap hak asasi, dan kebebasan individu berekspresi.

Mereka menentang keras pernyataan SBY itu. Menurut mereka, apabila negara dibiarkan mengatur hak pribadi warga negara, di antaranya soal pusar tadi, maka demokrasi dan kebebasan individu untuk berkreasi, pun mati. Itu pulalah yang menjadi alasan mereka menentang Rancangan Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi. Apabila disahkan, maka RUAPP tersebut akan mengatur tubuh perempuan demi kepentingan politik konservatif.

Alexandria dan Shreveport, dua kota di negara bagian Louisiana, AS, telah memberlakukan keputusan, yang melarang remaja putra dan putri mengenakan celana melorot. Keputusan itu disambut baik warga, yang sejak lahir telah menghirup udara demokrasi. Tidak ada yang protes dan menyebutnya sebagai antikebebasan berekspresi, antipluralis, konservatif, dan pertanda matinya demokrasi.

Demokrasi, sistem yang memiliki berbagai kelemahan, sesungguhnya tidak mati hanya karena pelarangan celana yang melorot dan pelarangan memperlihatkan pusar. Pandangan yang berlebihan terhadap demokrasilah apalagi membenturkannya dengan nilai-nilai di masyarakat, nilai-nilai agama, dan menyebutnya sebagai konservatif yang memungkinkan sistem itu kehilangan esensinya.

Di Alexandria dan Shreveport, remaja-remaja tidak lagi mengenakan celana melorot. Mereka tidak merasa menjadi konservatif apalagi antidemokrasi. Di Indonesia, para remaja bebas membiarkan (maaf) celana dalamnya menyembul. Inilah yang disebut para aktivis sebagai kebebasan berekspresi. Dan, para aktivis itu sangat takut demokrasi mati hanya karena remaja menutup pusarnya.

Oleh: Asro Kamal Rokan
source: www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=305781&kat_id=19

Menahan diri, bisakah

Bersabar. Sungguh sebuah kata yang mudah diucapkan namun sulit dilaksanakan justru ketika kita memerlukannya. Itu yang saya alami Rabu petang (20/2) pas azan mahrib berkumandang.

Waktu itu semangat menggebu dipicu rasa kangen pada seisi rumah mendadak berubah menjadi rasa lemas berbaur dengan emosi karena dua buah hati tengah asyik di depan teve. Entah kenapa petang itu kedua anak melanggar SOP di rumah kami, yakni dilarang menyalakan teve pas azan sekaligus tidak ada tayangan teve sesudah maghrib kecuali hari libur.

Merasa paling benar, lantas keduanya diberi peringatan keras agar segera mematikan pesawat teve. "Jika tidak langganan Astro diputus, tidak ada acara nonton teve untuk waktu yang akan diatur kemudian," begitu kira-kira pernyataan yang terlontar malam itu.

Reaksi keduanya?
Si Aa langsung memasang ekspresi muka masam seraya beranjak ke kamar dan langsung menelungkupkan badan di kasur. Untung tidak ada aksi banting pintu seperti biasa kalau dia lagi ngamuk. Sementara si kecil masih bertahan di depan teve dengan dalih "habis ini udah kok bah."

Melihat "aksi pembangkangan" emosi pun meluap, dan tak tetahankan bentakan pun terlontar.
Astaghfirullah, lagi-lagi emosi tak terbendung. Si adik melengos dan ikut-ikutan kakaknya masuk kamar. Refleks tangan ini mematikan teve, mencabut kabel dari steker, dan melempar remote control ke keranjang cucian.

Persoalan beres? Rupanya tidak. Karena kini saya berhadapan dengan dua jiwa belia yang ngambek dan tidak habis pikir "kok nonton sebentar 'aja nggak boleh...", begitu kira-kira dalam benak Aa dan dik Frida.

Tidak mudeh memang menghadapi situasi ini. Seperti disinggung di atas, kesabaran mudah diucapkan, diyakini kebenarannya, namun justru sangat tidak mudah untuk melaksanakannya.

Alhamdulillah, keadaan tidak berlarut-larut. Keesokan pagi harinya Aa dan dik Frida bangun pagi dengan ceria, pergi mandi, sarapan segelas susu hangat, dan berangkat ke sekolah dibonceng ojek abah...

Kata Ummi Nur, sore sepulang sekolah kedua anak menanyakan perihal larangan nonton teve malam hari selain hari libur. "Teman Aa ada yang boleh nonton sampai malam kok Mi," kata si cikal Haidar.

Untungnya Ummi Nur dengan bijak menjelaskan, "Tentu saja, bisa jadi di rumah teman Aa boleh, masalahnya peraturan di masing-masing rumah kan bisa berbeda," kata Ummi. Ada yang sepakat membatasi acara nonton teve, ada pula yang membolehkan teve menyala sepanjang hari dan malam meski sedang tidak ditonton sekalipun.

Subhanallah, si Aa menerima penjelasan panjang lebar Umminya. Buktinya, wajah Aa, apalagi dik Frida, kembali sumringah tatkala abahnya pulang Kamis petang harinya. Alhasil, emosi yang sempat meruyak, kemarahan yang pernah tak tertahankan sebetlnya sia-sia jua. Toh, dua permata hati masih menyisakan ruang untuk sebuah logika berupa penjelasan dari kedua orangtuanya. Hal lain, mereka tetap saja polos dan pandai memaafkan abahnya yang suka tidak sabaran, mudah emosi...

Ya Rabb, masukanlah hamba ke dalam kelompok mereka yang selalu mengutamakan kesabaran dalam segala hal. Sesungguhnya engKau senantiasa bersama orang yang sabar...

Tuesday, February 12, 2008

"Idung Guede..."

"Eh..., katanya teh Frida, dik Aya hidungnya guede? bener nggak sih?" Coba 'aja tanya Aa Zen, barangkali bener.

Tapi kalau tanya Aa Zein kayaknya susah deh... Maklum saja, si Aa itu kalau yang tanya adiknya paling juga jawabannya.. "Tauk deh..." atau paling banter cuma manyun, sambil ngomel "..dasar cemplu, gitu aja ditanyain...".

Cuek memang si Aa ini. Meski begitu Aa setuju hidung dik Aya ga kayak hidung Petruk. Baru denger Petruk? Itu loh tokoh spesialis dagelan di kisah pewayangan tanah Jawa. Biasanya Petruk memerankan sosok bingungan, agak sok tau, tapi dikisahkan jujur. Katanya sih...kata pak dalang ki Manteb Utomo Sosrojoyo Nincak Sukro Ngaborolo Beak Kedjo Saboboko...

Yang jelas, kata Matra'i, Allah sungguh sangat piawai dalam merencanakan penciptaan setiap mahluknya termasuk yang ada di muka bumi. Dalam hal penciptaan hidung contohnya. Bayangkan, andai hidung diciptakan dengan lubang menghadap ke atas, misalnya, dipastikan setiap saat dunia akan gaduh karena suara orang bersin bersahut-sahutan, tanpa henti.

Gede-cilik, pesek-mancung, bulet-gepeng, selama masih memiliki hidung yang berfungsi baik sebagai alat utama penciuman dan pernafasan manusia sejatinya patut bersyukur. Lha, ketimbang ga punya hidung?

Alhasil, semuanya menjadi bermakna tatkala kita mampu mensyukuri segala sesuatu pemberian sebagai nikmat dariNya, termasuk hidung gede, yak dik Aya?
Nggih, sumuhun atuh abah, aya aya wae....

Monday, January 14, 2008

Jangan Bubarkan Lembaga Sensor

Tuntutan Masyarakat Film Indonesia agar Lembaga Sensor Film (LSF) dihapus sungguh menggelikan. Kendati demikian, bagi yang mencermati tren aktual perfilman nasional, ide penghapusan LSF yang mereka usung bukan hal aneh.

Maklum saja, film yang mereka buat hingga saat ini belum juga beranjak dari hal-hal berbau seks bebas (free sex) dan tahayul. Film karya anak muda “kreatif” yang katanya lulusan sekolah film luar negeri itu kalau tidak bertema percintaan remaja ala barat (lengkap dengan keberanian beradegan ciuman, free-sex), biasanya tentang hantu gentayangan, mayat bangkit dari kubur, dsb.

Masyarakat, khususnya para orangtua yang memiliki anak beranjak remaja, tentunya akan mengernyitkan dahi menyaksikan “kreativitas” pekerja film. Betapa tidak, film yang banyak dipuji sebagai karya kreatif ternyata belum juga beranjak dari eksploitasi pornogafi dan tahayul berbalut "suspense-horror" ala "Suster Ngesot" atau "Jelangkung" tsb.

Sepengetahuan saya, karakteristik film selain sebagai media hiburan juga memiliki kekuatan memengaruhi opini, sikap, bahkan perilaku penontonnya. Hal mana merupakan sebagian alasan masih diperlukannya LSF. Tentu masih ada sederet hal lain yang memperkuat argumen pentingnya mempertahankan keberadaan LSF. Itu semua demi kemaslahatan orang banyak ketimbang sekadar memuaskan obsesi segelintir sineas muda yang tidak ingin diatur dalam memuaskan selera semata.

Saran saya untuk para sineas muda, silakan berkarya secara lebih kreatif lagi. Syukur jika karya dimaksud juga mengandung unsur mendidik. Lumayan, buat penyegar dahaga bangsa yang sedang "sakit" ini. Bukan sekadar adegan percintaan anak muda yang "berani". Atau hantu jadi-jadian penyubur tahayul pemupuk sifat penakut. Intinya, tidak perlu merasa gerah dengan keberadaan lembaga sensor. Di sini anda masih tetap bebas berkreasi kok, selama tidak memaksakan nilai-nilai ke orang lain (masyarakat penonton film)...
@bah

Friday, December 28, 2007

Hore...dapet tiga...!!! *

Maksudnya, akhirnya kami dapet tiga anak maman (manis dan manja, bukan Maman Tadarusman). Pas putri bungsu kami, Rayya Aisha lahir Senin 24 Desember 2007 pukul 20.15 wib di sebuah rumah sakit di kawasan Jakarta Timur.

Aya, ini panggilannya, menjadi adik yang manis buat kakak laki-lakinya, Haidar Zein atau Aa (8), dan tetehnya, Kea’zia Yasmina Frida (6). Alhamdulillah, keduanya sangat senang menyambut kehadiran adik kecil mereka. Sampai-sampai pas libur kemarin Aa dan Frida tidak begitu tertarik ikut abahnya jalan-jalan sore pake sepeda motor. Mereka lebih memilih terus dekat-dekat si bungsu meski tetep aja belum pada mandi kalo menjelang maghrib.

Tentu, kelahiran Aya mengingatkan diri sendiri, sejatinya umur kami sudah beranjak senja. Jatah hidup di alam fana pun nyata sudah kian berkurang.

Hal lain, khusus buat suami dan ayah anak-anak, ya Abah, jangan pernah berlagak sok masih muda, apalagi sok imut...! Meski imut dalam artian item mutlak agak-agak nyambung seh, Abah kan item ya... wak..kak..kak..kak... (item maniez kaleee...).

Apalagi warna putih di kepala Abah mulai menggeser posisi warna gelap. Sampai-sampai ada kawan yang lancang memanggil kakek...(tuh kan!!! btw, Kakek Abah? Manis juga nih panggilan... lagi: wak..kak...kak..kak...)

Kembali ke laptop, eh, ke Aya, kami berujar, selamat mengawali hari-hari penuh perjuangan putriku. Meski kehadiranmu ditandai dunia yang terus didera keprihatinan akibat perubahan iklim serba ekstrem, serba tidak menentu (ini asli ikut-ikutan orang di koran, ribut soal global warming ya mi..). Bencana di sana-sini. Separo pulau Jawa nyaris tenggelam (lho mi, ini kan bunyi spanduk ACT ya...). Lha, Kota Solo saja, tempat kelahiran emakmu ini, kebanjiran. Hal yang tidak pernah terjadi selama 36 usia Ummi Nur.

Putriku, kamu juga terlahir ketika harga-harga terus membubung. Gula naik, minyak goreng mahal, orang antre beli minyak tanah mirip yang Ummi lihat di foto lama tahun 60-an pas resesi. Meski tetangga sebelah suka menghibur kita dengan kata-kata “biarin harga-harga tinggi, yang penting bisa beli...Buat apa harga-harga murah tapi ga bisa beli..;” Sebuah guyonan yang sangat sarkastis. Lelucon yang mengiris rasa kemanusiaan kita yang paling primitif sekalipun...

Namun anakku, biarkan saja mereka melontarkan guyonan begitu. Lagi pula itu kan guyon menertawakan diri sendiri. Kata teh Frida juga; cuma bercanda kok mi... Apalagi, kata orang, menertawakan diri sendiri jauh lebih lucu dan lebih menyenangkan hati ketimbang menertawakan orang lain.

Tapi satu hal putriku, jangan pernah sedikit pun merasa kuatir. Allah yang Maha Segalanya tidak akan pernah berhenti untuk selalu melimpahkan kasih dan sayangnya kepadamu dan kepada kita semua nak...

Karenanya, wajar jika Ummi kelak akan 'cerewet' mengajakmu terus berusaha untuk selalu membuat Allah tersenyum.

Selamat datang di dunia ya Qurra' ta a'yun...Rayya Aisha...

*)dikutip dari curhatnya ummi nur...

Monday, December 03, 2007

Duh, panasnya bukan dimain...

Begitu kira-kira lontaran yang kerap kita dengar akhir-akhir ini. Selain macet, banjir, apa-apa mahal, orang banyak bicara soal udara yang kian panas meski hari masih pagi.

Ya, memang benar belakangan suhu udara sangat berbeda dengan keadaan dua tiga tahun terakhir. Kalau dulu pagi hari jam 10-an sinar matahari masih kita anggap sebagai vitamin D, terpaan sinar matahari memang terasa hangat.

Yang punya bayi pun menjalani "tradisi" menjemur si mungil karena selain hangat juga berharap dilimpahi vitamin D. Namun sekarang baru jam 7.30 saja kulit rasanya sudah tersengat kepanasan. Jangankan bayi, orang dewasa saja tidak akan tahan berlama-lama berjemur.

Tentu perubahan iklim ini bukan tidak ada penjelasannya. Kalau kita rajin menyimak isi media massa, orang sekarang memang sedang ramai membahas isu pemanasan global atawa "global warming".

Konon kata para ahli, karena penggunaan materi kimia yang berlebihan, dengan konsumsi bahan bakar fosil yang mencapai taraf akut, membuat permukaan atmosfir bumi terkoyak di sana-sini. Akibatnya ya itu tadi, bumi dan seisinya berkelojotan mandi keringat akibat panas langsung sinar matahari.

Negara-negara maju macam Amerika Serikat terhitung paling banyak menyumbang karbondioksida akibat konsumsi energi yang sangat tinggi. Parahnya lagi, justru mereka emoh meratifikasi protokol Kyoto (protokol yang berisi komitmen mengurangi efek rumah kaca demi meredam global warmig).

Bagaimana dengan negara terbelakang macam Indonesia?

Sami mawon. Selain penggunaan BBM untuk hal tidak produktif macam kemacetan di Jakarta setiap hari, Indonesia juga getol memproduksi karbondioksida dengan cara membakar hutan di Kalimantan dan Sumatera. Terus bagaimana dong solusinya?

Katanya sih sederhana. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai dari sekarang "global warming" mesti diperlambat kalau tidak bisa dihentikan. Caranya ya dengan aktif mengurangi penggunaan materi yang proses produksinya memerlukan pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi).

Kalau minum dan makan di restoran, misalnya, hindari yang menggunakan cangkir atau piring plastik sekali pakai. Sebab benda-benda itu dibuat dalam jumlah banyak pasti menyedot energi fosil yang banyak pula. Belum kalau mau didaur ulang nantinya juga akan memerlukan energi lagi. Akibatnya stok oksigen di udara tergerus, lapisan ozon pun menipis bahkan berlubang. Kalau sudah begini, jangan marah jika sinar matahari terasa jauh lebih menyengat. Makanya jangan diketawain kalau sekarang ada yang mengimbau minum kopi di Starbuck atau makan ayam goreng di Mc Donald sebaiknya membawa cangkir atau piring sendiri dari rumah.

Katanya nih, daripada berharap orang atau negara lain mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, mending mulai dari diri sendiri. Mari Selamatkan bumi kita dengan mengurangi efek pemanasan global. Jangan sampai "global warming" menjadi "global burning".

How come? Ya silakan dipikir sendiri...

Tuesday, November 27, 2007

Rambu Lalu Lintas Siapakah

Kita yang sering berada di jalanan, terlebih yang tengah punya keperluan mencari alamat atau bepergian menuju suatu daerah tertentu di Jakarta pasti pernah merasakan perasaan jengkel berkenaan dengan rambu-rambu lalu lintas yang "ada namun tiada".

Lho?

Coba perhatikan, di belokan, di perempatan, di atas jalan raya, hampir selalu terjadi rambu penunjuk arah, tidak bisa dilihat karena tertutup dedaunan. Ada pula yang tidak bisa dilihat karena tertutup baliho (billboard) iklan sebuah produk.

Bayangkan, suatu ketika kita yang mengemudi kendaraan dihadapkan pada pilihan, tetap lurus, belok kiri, atau ke kanan? Sebetulnya ada rambu yang bisa memandu kita agar tidak salah jalan. Hanya ya itu tadi, rambu tidak bisa dilihat karena tertutup.

Mestinya hal menjengkelkan tersebut tidak perlu terjadi kalau pihak yang bertugas mengawal, dalam hal ini DLLAJ, menyadari tugas dan fungsinya. Sayangnya, petugas DLLAJ kita lebih suka bergerombol di pintu terminal karena di sana ada duitnya. Atau, yang lebih sering lagi mereka bersemangat mengawasi dengan cermat pengemudi yang lewat jalur three in one. Kalau ada pengemudi yang ketahuan nyasar ke jalur itu rame-rame mereka kerubutin...

Aneh? Tidak juga. Di sini masyarakat menganggapnya biasa. Namanya saja Indonesia, negeri paling unik di muka bumi...

Monday, October 22, 2007

Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian

Kalimat yang saya jadikan judul dikutip dari judul sebuah buku. Tidak salah, isi dari tulisan di buku tsb menyoal hal menarik yang dalam dua tiga tahun terakhir banyak dibahas orang, yakni tentang pentingnya memikirkan kemungkinan membangun usaha sendiri ketimbang sekadar menjadi orang gajian (baca: karyawan).

Pertimbangannya sederhana, bagi orang gajian mau tidak mau, suka atau pun tidak suka, pasti akan menghadapi tiga hal buruk, yakni mengundurkan diri, pensiun, atau dipecat. Sebelum salah satunya menimpa ada baiknya menyiapkan diri untuk menempati kuadran baru sebagai seorang pengusaha.

Ya, benar, menjadi pengusaha. Usaha apa saja, bisa jualan dodol Garut, dagang martabak India, reparasi sandal jepit, MLM, dan sebagainya. Pokoknya usaha yang bisa membawa diri sendiri menjadi Ndoro, bukan kacung.

Masalahnya, menempati kuadran baru sebagai pengusaha jelas bukan perkara mudah. Tidak sedikit orang hanya bermodal semangat dan sedikit uang langsung main tabrak dagang ini, membuka bengkel itu, jualan anu, atau buka rental itu, akan tetapi belum setahun berjalan sudah lempar handuk" seraya meringis berujar "duh, ternyata buka usaha sendiri ga mudah ya, tau gini mending tetep jadi karyawan aja..."

So, ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi sebelum seseorang membulatkan tekad dan semangat untuk memulai kehidupan baru sebagai pengusaha. Bagaimana? Tunggu edisi selanjunya ya...maklum saja, abah Epoy udah pegel neh ngetiknya...

***

Posted by: Abah Epoy

Tuesday, June 26, 2007

Anda Lapar Tapi Malas Keluar? Telp Amigos..eh..Uda...

Uda, demikian pria kecil namun cekatan itu biasa kami panggil. Malu rasanya mengakui kalau kami yang kerap makan di warungnya hanya bisa menyebut Uda jika ada yang bertanya siapa nama pria murah senyum berpenampilan sederhana itu.

Modal Uda berdagang hanyalah sebuah gerobak sederhana dengan etalase kaca kecil di atasnya tempat aneka masakan matang menggoda selera. Dua meja kecil di atas got di atasnya tertutup kain terpal warna biru bersih. Katanya sih terpal lama raib diambil petugas Tramtib Pemda ketika menjelang penilaian Adipura. Untungnya gerobak dan meja tidak pernah ditinggal sehinga tidak ikut hilang disita. Kalau anda lewat pas jam makan siang jangan harap bisa melihat tubuh mungil Uda, karena nyaris tertutup antrean pelanggan yang memesan makanan untuk dibungkus dan dibawa pulang. Jangan tanya yang sedang makan, mereka rela berhimpitan melahap makan siang masakan Uda (atau masakan istrinya???). Ya, warung nasi padang Uda setiap hari ramai karena selain rasanya enak, juga harganya terjangkau orang kebanyakan.

Amigos
Karena warungnya nongkrong di atas beberapa lembar papan dan bambu yang menutupi got di Jalan Bintaro Raya depan apotek Bendi, Tanahkusir, Jakarta Selatan, warung Uda juga dikenal dengan nama keren: Amigos.
Eit,... tunggu dulu. Nama ini tidak ada kaitannya dengan sapaan selamat tinggal di negara-negara Amerika Latin. Amigos murni singkatan dari Agak Minggir Got Sedikit. Maklum, gerobaknya, memang berada tepat di pinggir got. Sedangkan mejanya benar-benar di atas got. Kata Uda, kalau jualannya di trotoar langsung pejalan kaki jadi tidak kebagian dan dia bisa disalahkan Tramtib.

Kami juga tidak tahu apakah Uda sudah punya anak atau belum. Sebab bagi kami setiap jam makan siang yang terpenting adalah sepiring nasi hangat dengan lauk ditambah bumbu rendang atau gulai yang siap santap karena antrean calon pembeli memaksa kami untuk menepis keinginan berbasa-basi dengan Uda.

Pagi tadi tatkala hendak makan Uda sempat cerita kalau dia baru saja membeli seperangkat pesawat telepon. Sebetulnya pesawat telepon harga Rp450 ribu cukup mahal untuk ukuran Uda. Namun dia memaksakan diri membeli pesawat telepon tersebut karena keinginannya melayani pelanggan yang malas beranjak dari rumah atau kantor tapi tetap ingin menikmati rendang di warungnya.

"Sekarang bapak atau teman bapak tinggal telepon ke sini dan pesan apa saja, saya antar segera, harganya samakok," ujarnya tanpa ditanya.

Ya, Uda disadari atau tidak sejatinya tengah menjalankan praktik mendasar dalam dunia marketing, yakni bagaimana memuaskan pelanggan (customer satisfaction is the most important thing)...Makanya, tak berat hati ini ketika Uda minta tolong agar nomor telepon warung nasinya disebar ke teman-teman kantor.

"Biar mudah aja pak, kan kadang-kadang orang sibuk seperti bapak tidak ada waktu untuk jalan kaki ke sini, kalau tinggal telepon kan hemat waktu," ujarnya dengan mata berbinar menyiratkan optimisme khas pengusaha kecil yang tengah bersiap mejemput sukses.

Ah, Uda, tekad Uda menyisihkan tabungan untuk membeli pesawat telepon sungguh sebuah langkah sangat tepatsebagai modal untuk maju dan berkembang.

Semoga usaha Uda semakin maju, semoga Uda dijauhkan dari aksi sepihak dinas ketentraman dan ketertiban (Tamtib) Pemda yang suka menggaruk rombong atau kios dagangan yang dinilai mengganggu pemandangan. Bagaimanapun Uda selangkah lebih maju ketimbang kami, para orang gajian... posted by abah Epoy

***

Wednesday, February 07, 2007

Nyuwun sewu...

Mohon maaf, foto di situs ini bukan benar-benar cermin seorang narcist....

Meski Banjir, Tetap Semangat Sekolah

Banjir jangan sampai menyurutkan niat mencari ilmu. Begitu yang tampak dalam foto yang menggambarkan seorang anak sekolah tetap riang meski dihadang banjir.

Sungguh sangat disesalkan jika semangat belajar yang begitu tinggi (sebagaimana dicontohkan pelajar yang tetap ceria meski dihadang banjir) masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah yang belum optimal dalam meningkatkan mutu dunia pendidikan kita..

(abah Effi-Foto: KCM)

Kasih Ibu di Kala Banjir

Banjir yang membekap Ibukota Jakarta sejak sepekan terakhir banyak menyimpan cerita. Ada yang tidak bisa masuk kerja karena rumahnya kebanjiran. Ada yang malas ke kantor karena jalan menuju tempat kerja terendam banjir. Ada pula yang tidak masuk kerja karena rumah tetangga kebanjiran. Ajaib. Banjir dijadikan alasan bagi mereka yang malas bekerja. Satu hal, di tengah beratnya desakan untuk memenuhi kebutuhan hidup ternyata masih ada banyak sisi kemanusiaan tercermin dalam peristiwa banjir. Seperti ibu yang rela berbasah kuyup demi anak. Asal anak aman dari banjir ibu seperti tampak dalam foto ini rela menerjang banjir. Sunggu sebuah pemandangan yang sangat baik untuk direnungkan. Kasih ibu..
(abah Effi-Foto: KCM)

Monday, February 05, 2007

Socrates pesen jangan ngegosip...dosa!!!

In ancient Greece, Socrates was reputed to hold knowledge in high esteem. One day an acquaintance met the great philosopher and said,
"Do you know what I just heard about your friend?"
"Hold on a minute," Socrates replied. "Before telling me anything I'd like you to pass a little test. It's called the Triple Filter Test."
"Triple filter?"
"That's right," Socrates continued. "Before you talk to me about my friend, it might be a good idea to take a moment and filter what you're going to say. That's why I call it the triple filter test.
The first filter is TRUTH.
Have you made absolutely sure that what you are about to tell me is true?"
"No," the man said, "actually I just heard about it and..."
"All right," said Socrates. "So you don't really know if it's true or not.
Now let's try the second filter, the filter of GOODNESS.
Is what you are about to tell me about my friend something good?"
"No, on the contrary... "
"So," Socrates continued, "you want to tell me something bad about him, but you're not certain it's true. You may still pass the test though, because there's one filter left: the filter of USEFULNESS. Is what you want to tell me about my friend going to be useful to me?"
"No, not really."
"Well," concluded Socrates, "If what you want to tell me is neither true, good nor even useful, why tell it to me at all?"
This is why Socrates was a great philosopher & held in such high esteem.
Friends, let's use this triple filter each time we hear loose talk about anyone.

Potret (Keliru) Poligami

Penulis: Sirikit Syah, wartawan
Kesalahan perjuangan para aktivis perempuan adalah lebih menghormati PSK dan perempuan simpanan daripada mereka yang mau jadi istri kedua
***
Sahabat saya dr Nalini Agung menelepon hanya untuk menyampaikan komentar kerasnya. "Ada tiga jokes of the year tahun ini, laki-laki semua. Aa Gym, Yahya Zaini, dan Akhmad Dani," katanya dengan nada jengkel. Menurut perempuan cantik dan pintar itu, Yahya, yang tampil bisu di sisi istrinya di hadapan publik Kamis malam lalu, "Adalah laki-laki bertubuh besar, bernyali ciut. Ada persoalan dengan istri, lari ke perempuan lain. Kini ada persoalan dengan perempuan lain, berlindung kepada istrinya."
Tentang Aa Gym, Nalini tidak banyak berkomentar, selain, "Ternyata, Aa Gym manusia biasa juga." Namun, Nalini tak dapat menoleransi kepongahan suami bernama Akhmad Dani. "Suami macam itu, kalau saya jadi Maia, wis tak tinggal."
Tiga lelaki "jokes of the year", istilah bagus temuan seorang perempuan berpendidikan dan berkarir, yang juga ibu rumah tangga yang baik. Di kalangan pemerintah, Presiden SBY tak berkomentar sepatah kalimat pun mengenai kasus YZ-ME, malah mempersoalkan regulasi perkawinan poligami seolah-olah itu ancaman nasional.
Di lapangan, berbagai kelompok masyarakat, antara lain mahasiswa Universitas Muhamadiyah Jogjakarta, berdemo menentang poligami. Ibu-ibu muslimat memboikot pengajian Aa Gym. Sangat mengherankan, tak ada masyarakat yang berdemo memprotes YZ, wakil rakyat yang melakukan skandal seks.
Dunia sudah terbolak-balik. Aa Gym -yang menikah dengan uang sendiri dan mendapat rida istri- dihujani kecaman lebih keras daripada pelaku perzinahan dan perselingkuhan dengan menggunakan uang rakyat/negara.
Potret Poligami
Seperti yang dikatakan Aa Gym, poligami sudah sangat dikelirukan maknanya. Yang melakukan misleading atas makna poligami itu termasuk di antaranya pemerintah, para pemimpin negara, tokoh masyarakat, aktivis perempuan, dan media massa. Poligami telah dipotret sebagai kejahatan dan kekerasan pada perempuan dan anak-anak.
Alih-alih mendengarkan penjelasan Aa Gym dan Teh Ninih, istrinya, masyarakat lebih suka mendengarkan sumber-sumber yang tidak layak bicara. Bagaimana kita percaya pandangan Farhat Abbas tentang poligami? Dia sendiri suami yang gemar mempermainkan perempuan dan membohongi istrinya.
Juga, mengapa mendengarkan Sandy Harun yang tak setuju poligami atau berbagi suami? Look whoʼs talking. Dia adalah "the other woman", yang kemudian dinikahi. Dalam status sebagai istri Djodi, dia berhubungan dan punya anak dengan Tommy Soeharto. Dalam kata lain, Sandy adalah pelaku poliandri, sebuah tindakan melanggar hukum. Orang seperti itu akan kita dengar pendapatnya?
Kekecewaan masyarakat yang luar biasa kepada Aa Gym sebetulnya dipicu oleh pemujaan berlebihan pada sosok kiai muda itu. Ibu-ibu membanjiri pengajiannya dan rela antre berbulan-bulan hanya untuk bisa mengunjungi pesantrennya di Bandung. Aa dipandang sebagai dewa. Ketika Aa melakukan hal yang manusiawi (bersifat manusia), masyarakat terkejut dan patah hati. Kebanyakan orang kecewa karena Aa sering mendengung-dengungk an konsep keluarga sakinah. "Sakinah apaan, bohong besar," kata sementara orang.
Apakah keluarga sakinah tak dapat tercapai dengan tindakan Aa menikah lagi? Apakah keluarga sakinah tidak mungkin dialami keluarga poligami? Saya melihat keluarga poligami Aa Gym lebih sakinah daripada banyak keluarga nonpoligami.
Pembelokan (bila bukan pemelintiran) makna poligami -dari sebuah solusi menjadi tindak kejahatan- itu hanya skala kecil upaya pemerintah untuk menutupi amburadulnya pengelolaan negara belakangan ini. Ketua DPR menyalahgunakan voucher pendidikan, anggota DPR terlibat skandal seks yang videonya merebak ke seluruh msayarakat, lumpur Sidoarjo tak tertangani, angka kemiskinan meningkat, rakyat tak punya bahan bakar untuk memasak, BUMN yang terus merugi atau kalau untung dijual.
Kekeliruan masyarakat terjadi ketika mereka selalu membenarkan persepsinya sendiri. Di antaranya, dengan kalimat "Mana ada perempuan mau dimadu." Kenyataannya, banyak peremuan bersedia dimadu. Lalu, "Ya, tapi mereka pasti tertekan dan menderita." Lagi-lagi, sebuah upaya pembenaran antipoligami.
Perempuan lain boleh pura-pura atau acting. Namun, kita tak dapat menuduh Teh Ninih hipokret, bukan? Dia dengan wajah bersinar menyatakan ikhlas dan rida suaminya menikah lagi. Bahkan, mimik, gesture, dan body language Ninih dan Aa selama jumpa pers menunjukkan bahwa mereka masih saling (bahkan lebih) mencintai.
Saya percaya mereka telah mendapatkan hikmah. Masyarakat tak mau menerima kenyataan itu. Mereka menolak fakta kebenaran. Bukan Aa dan Ninih yang hipokret, melainkan kita sendiri.
Poligami bukan anjuran, apalagi kewajiban. Seperti kata Aa, "Jangan menggampangkan. " Aa tentu saja sah berpoligami karena dia bukan PNS, dia mampu, dan memiliki ilmu serta potensi untuk berbuat adil. Banyak laki-laki tak bertanggung jawab bersembunyi di balik UU Perkawinan yang melarang poligami dan meneruskan tindakan bejatnya mempermainkan perempuan tanpa status perkawinan sah.
Poligami yang baik dilakukan dengan cara kesepatakan suami istri, kompromi, atau persuasi. Setiawan Djodi berhasil mempersuasi istrinya untuk menerima kehadiran Sandy Harun. Ray Sahetapy gagal karena Dewi Yull memilih bercerai.
Sebagai perempuan muslim, kita boleh stay on atau quit dalam perkawinan poligami. Alasan quit jelas: enggan berbagi. Alasan stay on: mencintai suami dan tak ingin kehilangan atau tak berdaya secara ekonomi dan sosial.
Kesalahan perjuangan para aktivis perempuan adalah lebih menghormati PSK dan perempuan simpanan yang independen daripada mereka yang mau jadi istri kedua. Para istri pertama yang ikhlas, yang seharusnya mendapat apresiasi dari kita, malah didudukkan sebagai korban yang perlu dikasihani.
Banyak gerakan perempuan yang didukung pemerintah meneriakkan yel-yel antipoligami. Sitoresmi yang menjadi istri keempat Debby Nasution dipecat dari LSM-nya di Jogjakarta karena dianggap "tidak berdaya".
Pada intinya, UU Perkawinan yang membatasi perkawinan poligami hanya melindungi para istri pertama yang enggan berbagai hak dengan sesama perempuan (padahal diteriakkan persamaan hak dengan laki-laki). Lebih buruk lagi, UU itu melindungi laki-laki hidung belang yang tak mau bertanggung jawab. Itu sama tak bertanggung jawabnya dengan laki-laki yang berpoligami, padahal tidak mampu, tidak adil, dan tak mendapat restu istri pertama.
***
Oleh: Sirikit Syah
*) Penulis adalah ibu rumah tangga, aktif sebagai pengarang. Tulisan ini diambil dari Jawa Pos edisi Rabu, 13 Des 2006

Seribu Manfaat Air


RamuRacik – Tahukah Anda bahwa air menyimpan seribu khasiat? Mungkin Anda tak percaya. Tapi, tak ada salahnya, jika Anda tetap menggunakan air untuk kegiatan apa pun. Menyadari betapa air sangat menunjang kebugaran, kesehatan, dan kecantikan tubuh Anda, tak ada salahnya untuk tetap kita memelihara persahabatan dengan sobat lama kita ini. Selama kita masih dapat menikmati khasiatnya, mari manfaatkan sebaik-baiknya. Menurut para peneliti sebuah lembaga riset trombosis di London, Inggris, jika orang selalu mandi dengan air dingin, peredaran darahnya akan membaik sehingga tubuh terasa lebih bugar. Tak hanya itu manfaatnya. Jika Anda mandi dengan air dingin, akan meningkatkan produksi sel darah putih dalam tubuh dan kemampuan seseorang terhadap serangan virus.Bahkan, mandi dengan air dingin di waktu pagi dapat meningkatkan produksi hormon testosteron pada pria serta hormon estrogen pada wanita. Dengan demikian, kesuburan serta kegairahan seksual pun akan meningkat. Selain itu jaringan kulit membaik, kuku lebih sehat dan kuat, tak mudah retak.Air putih juga bersifat "menghanyutkan" kotoran-kotoran dalam tubuh yang keluar lewat urine. Jika Anda ingin menguruskan badan pun, minum air hangat sebelum makan (sehingga merasa agak kenyang), tentunya dapat mengurangi jumlah makanan yang masuk. Apalagi, air tidak mengandung kalori, gula, atau pun lemak. Namun, yang terbaik adalah minum air putih pada suhu sedang, tidak terlalu panas, dan tidak terlalu dingin.Air juga diyakini dapat ikut menyembuhkan penyakit jantung, rematik, kerusakan kulit, penyakit saluran napas, usus, penyakit kewanitaan, dan lain-lain. Kini bermacam pengobatan alternatif ditawarkan, dengan cara berendam di dalam air yang mengandung magnet, kadar garam tinggi, belerang, atau zat kimia lain yang bisa meningkatkan kesehatan. Cipratan air mancur pada tubuh pun akan terasa seperti pijatan, sehingga tubuh merasa lebih rileks. Para pakar pengobatan alternatif menyatakan, bersentuhan dengan air mancur, berjalan-jalan di sekitar air terjun, atau sungai dan taman dengan banyak pancuran, akan memperoleh khasiat ion-ion negatif. Ion-ion negatif yang timbul karena butiran-butiran air yang berbenturan itu, dapat meredakan rasa sakit, menetralkan racun, memerangi penyakit, dan membantu menyerap serta memanfaatkan oksigen. Khasiat air tak berhenti pada soal mandi atau berendam saja. Tidak kalah pentingnya khasiat air putih bila diminum. Selain makanan, air sangat diperlukan oleh tubuh kita. Seseorang yang kekurangan makan masih dapat bertahan sampai beberapa hari. Tapi, kekurangan air akan berakibat fatal. Karena, air merupakan bagian terbesar dari komposisi tubuh manusia.Dr. James M. Rippe, kardiolog dari AS menyarankan untuk minum paling sedikit 1 liter lebih banyak, dari yang dibutuhkan rasa haus kita. Pasalnya, kehilangan 4% cairan saja, mengakibatkan penurunan kinerja sebanyak 22%! Bisa dimengerti bila kehilangan 7%, kita akan mulai merasa lemah dan lesu.Semakin banyak kita melakukan aktivitas, air akan lebih banyak terkuras dari tubuh. Apalagi, orang yang tinggal di negara tropis yang banyak mengeluarkan energi. Sebab itu, para pakar kesehatan mengingatkan, jangan hanya minum bila terasa haus. Kebiasaan banyak minum, apakah sedang haus atau tidak, merupakan kebiasaan sehat! [NAR]