Saturday, February 06, 2016

Penuhi Kebutuhan, Bukan Keinginan

Anda pernah mengeluh banyak kebutuhan tapi gaji sudah habis? Atau sudah tahapan susah tidur mikirin utang ke sana ke mari? Tidak perlu berkecil hati. Anda tidak sendirian.

Simak hasil riset Lembaga Riset Kadence Internasional Indonesia selama 2015, yang mengungkapkan 28% masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan gaya hidup konsumtif yang tidak sehat. Dari seluruh responden yang disasar, rerata memiliki pengeluaran lebih besar ketimbang penghasilan bulanan. Kadence mencatat pengeluaran bulanan sejumlah responden dibandingkan dengan uang yang mereka miliki setiap bulannya. Sebagian besar dari mereka membelanjakan uang untuk hal-hal yang sebetulnya tidak mereka perlukan.

Beberapa hal yang mendorong orang berperilaku "besar pasak daripada tiang" sebagai berikut:

1. Membeli barang karena iming-iming hadiah

2. Membeli makanan di restoran mahal karena ada diskon (paket diskon)

3. Membeli barang karena barang tersebut diiklankan oleh bintang idola

4. Makan di tempat yang sedang jadi tren meskipun harganya sangat mahal

5. Mencoba lebih dari dua produk dengan fungsi yang sebetulnya sama

Sungguh pusing bukan, jika kita termasuk orang yang banyak melakukan hal-hal di atas? Agar terhindar dari problem tersebut para pakar perencana keuangan mengenalkan istilah frugalisme. Istilah ini menunjukkan gaya hidup hemat yang mementingkan kebutuhan ketimbang menuruti hawa nafsu keinginan.

“Maklum, sebagai manusia, selain memiliki kebutuhan untuk bertahan hidup, juga dibekali Tuhan dengan keinginan yang tidak ada batasnya," ungkap Musobbichan, guru spiritual bagian teknik pabrik GarudaFood Rancaekek.

Padahal, masih kata pria mungil tersebut, keinginan tidak harus dipenuhi. Lain dengan kebutuhan, jika tidak dipenuhi hidup akan kerepotan. Makan, minum, berpakaian, tempat tinggal merupakan kebutuhan. Sementara gadget, perangkat elektronik, ngopi di Starbuck masuk kategori keinginan. Jika tidak dipenuhi manusia tidak akan mati.

"Untuk hidup tenang yang terpenting adalah memenuhi kebutuhan dasar seperti makan, biaya sekolah, sandang, bensin dan belanja kebutuhan sehari-hari serta cicilan rumah,” tambah Aki Ucob (panggilan akrab teman-temannya di BU E2).

Apa yang dikemukakan Aki Ucob juga menjadi benang merah dari paham atau gaya hidup "frugalism". Gaya frugal ini berbeda dengan pelit atau gaya hidup susah. Frugalisme menitikberatkan pada kepuasan melaui hidup hemat, bahwa banyaknya barang yang dikonsumsi maupun banyaknya uang yang dibelanjakan bukan merupakan ukuran keberhasilan atau pun puncak kebahagiaan.

Jika kita bisa memilah dan memilih untuk selalu mengutamakan pemenuhan kebutuhan dan menunda pemenuhan keinginan dijamin hidup kita sehari hari akan lebih tenang. Tidak ada lagi rasa gerah karena dikejar-kejar debt collector. Atau susah tidur karena memikirkan gadget baru yang harganya setara upah buruh pabrik sebulan.

Sebaliknya, kita akan hidup lebih tenang, bahkan mulai memasukkan sebagian uang untuk ditabung. Artinya, setiap setelah menerima gaji setiap bulan ada alokasi khusus buat tabungan. Bukan menabung jika ada sisa. Namun menabung sebagai sebuah kewajiban.

Buat kita yang biaya hidupnya sehari-hari masih mengandalkan gaji gaya hidup frugalism tampaknya patut dicoba diterapkan. Sebab jika tidak cerita lama akan terus terulang; setiap bulan menyesal sudah belanja yang tidak benar-benar dibutuhkan dan bahkan dengan cara berutang.

Stop budaya konsumtif, biasakan menabung, terapkan gaya frugalism, atau kita akan menyesal. ***

Friday, March 16, 2012

Narsis di Lokasi Bencana, Sungguh Tidak Sopan!

Alih-alih menjadi relawan kemanusiaan atau memberikan bantuan kepada korban bencana, banyak yang datang ke lokasi bencana khusus hanya untuk menyalurkan naluri narsis. Lho kok bisa?

Bisa saja. Penulis mengalami dan menyaksikan sendiri hal demikian itu. Saat wilayah Yogyakarta, tepatnya Bantul, terkena gempa hebat pada 2006 lalu, selama beberapa minggu setelah gempa Yogya, Bantul, dan kota-kota di sekitarnya dikunjungi banyak “turis dadakan”. Tidak sedikit dari kalangan artis dan selebritis yang kerap muncul di layar televisi ikut berseliweran di lokasi bencana. Keperluannya ya itu tadi, berpose sejenak kemudian mengabarkan ke kenalan dan sanak saudara kalau mereka saat itu tengah berada di lokasi bencana.

Yang menggelikan, pernah di suatu hari (untuk keperluan pengiriman bantuan penulis berada di Yogya selama dua pekan), penulis menyaksikan seorang pengacara terkenal bersama beberapa artis melihat-lihat lokasi gempa dengan menyelipkan pistol (ini pistol beneran) di pinggangnya. Mungkin sang pengacara kondang merasa terancam di lokasi bencana sehingga merasa perlu membawa-bawa pistol segala.

Andai pada 2006 saat gempa Yogya atau pada 2004 saat tsunami di Aceh demam facebook sudah melanda bisa jadi mereka datang sekadar untuk berfoto dengan latar belakang kerusakan akibat gempa, mengunggah (upload) foto, dan tidak lupa meng-update status.

Tentu ada yang mendapat untung dari hal tersebut. Biasanya para pedagang makanan-minuman. Sebab namanya turis ya perlu makan. Apalagi ini wisata bencana, menikmati makanan plus merasakan efek dramatis bersantap di lokasi gempa. Pengalaman luar biasa bukan?

Namun tidak sedikit yang jengkel bahkan marah karena bencana alam seakan dijadikan komoditas. Saat menjadi relawan untuk pengiriman bantuan makanan ke lokasi gempa di pelosok Bantul saat gempa 2006 lalu penulis sempat merasakan dampak langsung turis dadakan wisata gempa. Waktu itu mobil berisi makanan instan, air minum, selimut, yang akan penulis antar ke lokasi gempa harus tertahan berjam-jam karena kemacetan parah di sepanjang Jalan Raya Bantul-Yogya. Waktu itu jalanan dipenuhi antrean mobil-mobil mewah yang rata-rata berplat nomor Jakarta.

Selain relawan yang banyak terhambat, warga sekitar daerah gempa rata-rata sudah muak pula dengan perkembangan tersebut. Salah satu wujud kejengkelan mereka meruyak dalam bentuk spanduk besar berisi kalimat: “Kami Bukan Tontonan” di tepi jalan di depan tenda pengungsi korban gempa.

Menurut warga di sana yang sempat penulis tanya, spanduk itu dibuat karena mereka jengkel setiap yang datang ke sana rata-rata sekadar melihat-lihat, bertanya ini-itu, dan dilanjutkan dengan berfoto bersama dengan latar belakang kerusakan akibat gempa.

“Setelah puas melihat-lihat, berfoto-foto dengan latar belakang bangunan yang rusak, ha-ha hi-hi sebentar, terus mereka ngeloyor pergi, ya jelas kami jengkel dijadikan tontonan dan latar belakang foto mereka,” ujar warga tersebut sengit.

Kejengkelan yang wajar. Apalagi ada pilihan untuk bersikap lebih terpuji sekadar menjadikan korban sebagai tontonan atau latar belakang pemotretan, yakni dengan menyerahkan bantuan atau membantu menjadi relawan bencana.

Mengingat pengalaman tersebut saya mencoba melakukan introspeksi…

Wisata bencana? Sungguh tidak sopan…

Thursday, December 08, 2011

Orangtua egois


Anda yang sering berlalulintas di jalan raya pasti pernah atau sering menyaksikan orangtua atau suami istri yang mengendarai sepedamotor lengkap dengan helm dikepala membonceng anak kecil atau menggendong bayi. Sementara sang anak polos tanpa pelindung. Sekilas ini pemandangan biasa. Bahkan ada yang menilai cermin orangtua sayang anak.

Betapa tidak? Dengan segala keterbatasan, orangtua berupaya tetap mengajak anaknya bepergian atau sekadar mengantar - jemput ke sekolah. Saat musim mudik lebaran fenomena ini kian kentara. Bahkan, tidak hanya anak yang dibawa, dus dan tas besar berisi bekal dan oleh-oleh pun ikut bertenger di atas sepedamotor mereka.

Namun saat membayangkan jika terjadi kecelakaan maka mudah ditebak apa yang akan terjadi. Jika semua penumpang terjatuh, dipastikan kepala ayah dan ibu akan selamat sebab terlindungi helm. Namun tidak demikian sang anak. Karena tidak mengenakan helm sebagaimana ayah dan ibunya, paling tidak kepala si anak bisa geger otak akibat terbentur aspal jalan.

Alih-alih sayang anak, model orangtua demikian sejatinya adalah orangtua egois. Hanya memikirkan keselamatan kepala mereka, sementara batok kepala anak mereka tidak terlindungi. Sampai saat ini pemandangan semacam ini masih saja terjadi di jalanan. Apakah kita prihatin? Atau kita termsuk orang tua egois yang hanya sudi melindungi kepala kita sementara kepala anak kita dibiarkan terancam terbentur aspal? Duh...

Thursday, September 15, 2011

Mengapa Engkau Mudah Menangis?

Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya, “Mengapa engkau menangis?”. “Karena aku seorang wanita”, kata sang ibu kepadanya. “Aku tidak mengerti”, kata anak itu. Ibunya hanya memeluknya dan berkata:

“Dan kau tak akan pernah mengerti” Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya,
“Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan, yah?”
“Semua wanita menangis tanpa alasan, anakku”, hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya. Anak laki-laki kecil itu pun lalu membesar menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita suka menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, "Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?" Dalam mimpinya Allah menjawab, "Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah. Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.

Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan".
***
Ngopy-paste dr www.dedesander.blogspot.com

Tuesday, September 13, 2011

Puisi Cinta Pohon, Daun, dan Angin


Pohon

Orang2 memanggilku "POHON" karena aku sangat baik dalam menggambar pohon.

AKU selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark pada semua lukisanku.

AKU telah berpacaran sebanyak 5 kali...

Ada satu wanita yang sangat AKU cintai..tapi AKU tidak punya keberanian untuk
mengatakannya...

Dia tidak cantik.. tidak memiliki tubuh yang sexy..

Dia sangat peduli dengan orang lain..religius tapi..dia hanya wanita biasa saja.

AKU menyukainya..sangat menyukainya..

Gayanya yang innocent dan apa adanya..kemandiriannya..kepandaiannya dan
kekuatannya...

Alasan AKU tidak mengajaknya kencan karena... AKU merasa dia sangat biasa dan tidak serasi
untukku...

AKU takut...jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang...

AKU merasa dia adalah "sahabatku"...

Alasan yang terakhir..membuat dia menemaniku dalam berbagai pergumulan selama 3 tahun ini...

Dia tau AKU mengejar gadis2 lain dan AKU telah membuatnya menangis selama 3 tahun...

Ketika AKU mencium pacarku yang ke-2 terlihat olehnya...

Dia hanya tersenyum dengan berwajah merah..."lanjutkan saja" katanya, setelah itu pergi
meninggalkan kami.

Esoknya, matanya bengkak..dan merah...

AKU sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis...

but AKU tertawa...bercanda dengannya seharian diruang itu...

Di sudut ruang itu dia menangis...dia tidak tau bahwa AKU kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal...

Hampir 1 jam kulihat dia menangis disana....

Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya...

Pernah sekali mereka berdua perang dingin, AKU tau bukan sifatnya untuk memulai perang dingin...

Tapi AKU masih tetap bersama pacarku...

AKU berteriak padanya dan matanya penuh dengan airmata sedih dan kaget...

AKU tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama pacarku...

Esoknya masih tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya...

AKU tau dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tau bahwa sakit hatiku sama buruknya
dengan dia...

AKU juga sedih...

Ketika AKU putus dengan pacarku yang ke 5, AKU mengajaknya pergi...

Setelah kencan satu hari itu, AKU mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan
padanya...

Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ingin mengatakan sesuatu padaku...

AKU cerita tentang putusnya AKU dengan pacarku...

Dia berkata bahwa dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang...

AKU tau pria itu...dia sering mengejarnya selama ini...Pria yang baik, penuh energi dan menarik...

AKU tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatiku, AKU hanya tersenyum dan mengucapkan selamat padanya...

Ketika sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat dan AKU tidak dapat menahannya...

Seperti ada batu yang sangat berat didadaku...AKU tak bisa bernapas dan ingin berteriak namun apa daya...

Air mataku mengalir tak terasa aku menangis karenanya...

Sudah sering AKU melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya...

Handphoneku bergetar...ternyata ada SMS masuk...SMS itu dikirim 10 hari yang lalu ketika
aku sedih dan menangis...

SMS itu berbunyi,
"DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"


Daun


AKU suka mengoleksi daun-daun, kenapa?

Karena AKU merasa bahwa DAUN untuk meninggalkan pohon yang selama ini ditinggali membutuhkan banyak kekuatan.

Selama 3 thn AKU dekat dengan seorang pria, bukan sebagai pacar tapi "Sahabat" .

Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya...

AKU mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku pelajari sebelumnya - CEMBURU...

Perasaan di hati ini tidak bisa digambarkan dengan menggunakan Lemon.

Hal itu seperti 100 butir lemon busuk.

Mereka hanya bersama selama 2 bulan...

Ketika mereka putus, AKU menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya.

Tapi sebulan kemudian dia bersama seorang gadis lagi...

AKU menyukainya dan AKU tau bahwa dia juga menyukaiku, tapi mengapa dia tidak mau mengatakannya?

Jika dia mencintaiku, mengapa dia tidak memulainya dahulu untuk melangkah?

Ketika dia punya pacar baru lagi, hatiku sedih...

Waktu berjalan dan berjalan, hatiku sedih dan kecewa...

AKU mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan...

Tapi..mengapa dia memperlakukanku lebih dari sekedar seorang teman?

Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati...AKU tahu kesukaannya...kebiasaannya...

Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui...

Kau tidak mengharapkan AKU seorang wanita untuk mengatakannya bukan ?

Diluar itu, AKU mau tetap disampingnya...memberinya perhatian...menemani...dan mencintainya...

Berharap suatu hari nanti dia akan datang dan mencintaiku...

Hal itu seperti menunggu telephonenya tiap malam...mengharapkan mengirimku SMS...

AKU tau sesibuk apapun dia, pasti meluangkan waktunya untuk ku...

Karena itu, AKU menunggunya...3 tahun cukup berat untuk kulalui dan AKU mau menyerah...

Kadang AKU berpikir untuk tetap menunggu...

Dilema yang menemaniku selama 3 tahun ini...

Akhir tahun ke-3, seorang pria mengejarku...setiap hari dia mengejarku tanpa lelah...

Segala daya upaya telah dilakukan walau seringkali ada penolakan dariku...

AKU berpikir...apakah aku ingin memberikan ruang kecil di hatiku untuknya?!..

Dia seperti angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup daun untuk terbang dari pohon...

Akhirnya, AKU sadar bahwa AKU tidak ingin memberikan Angin ini ruang yang kecil di hatiku...

AKU tau Angin akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh dan ketempat yang lebih baik...

Akhirnya AKU meninggalkan Pohon...tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal...

AKU sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku...

"DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"


Angin



AKU menyukai seorang gadis bernama Daun...karena dia sangat bergantung pada Pohon..

jadi aku harus menjadi ANGIN yang kuat...

Angin akan meniup Daun terbang jauh...

Pertama kalinya..AKU melihat seseorang memperhatikan kami...

Ketika itu, dia selalu duduk disana sendirian atau dengan teman2nya memerhatikan Pohon...

Ketika Pohon berbicara dengan gadis2, ada cemburu dimatanya...

Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum dimatanya...

Memperhatikannya menjadi kebiasaanku...seperti daun yang suka melihat Pohon.

Satu hari saja tak kulihat dia...AKU merasa sangat kehilangan...

Di sudut ruang itu, ku lihat pohon sedang memperhatikan daun...

Air mengalir di mata daun ketika Pohon pergi...

Esoknya...Ku lihat Daun di tempatnya yang biasa, sedang memperhatikan Pohon...

AKU melangkah dan tersenyum padanya...Kuambil secarik kertas..kutulis dan kuberikan padanya...

Dia sangat kaget...

Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima kertas dariku...

Esoknya...dia datang...menghampiriku dan memberikan kembali kertas itu...

Hati Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi, hal itu karena Daun tidak mau meninggalkan Pohon.

AKU melihat kearahnya...kuhampiri dengan kata2 itu...

Sangat pelan...dia mulai membuka dirinya dan menerima kehadiranku dan telponku...

AKU tau orang yang dia cintai bukan AKU...tapi AKU akan berusaha agar suatu hari dia menyukaiku...

Selama 4 bln, AKU telah mengucapkan kata Cinta tidak kurang dari 20x kepadanya...

Hampir tiap kali dia mengalihkan pembicaraan...tapi AKU tidak menyerah...

Keputusanku bulat....AKU ingin memilikinya...dan berharap dia akan setuju menjadi pacarku....

Aku bertanya," apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pernah membalas?

Mengapa kau selalu membisu?"

Dia berkata, "AKU menengadahkan kepalaku"...

"Ah?" Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar...

"Aku menengadahkan kepalaku" dia berteriak...

Kuletakkan telepon......melompat....berlari seribu langkah...ke rumahnya...

Dia membuka pintu bagiku...Ku peluk erat-erat tubuhnya...

"DAUN terbang karena tiupan ANGIN atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"

Wednesday, September 07, 2011

Pelawak OVJ Trans 7 Melecehkan Kembar Siam


Saat mencari tayangan yang pantas untuk pengantar makan sahur bersama keluarga, saya sempat tertegun menyaksikan lawakan para pelawak Opera Van Java (OVJ) di Trans 7 Senin (1/8). Bukan hanya dominasi iklan rokok yang begitu vulgar, konten tayangan menjelang subuh tersebut telah menyebabkan selera makan sahur saya hilang.
Tampak dalam tayangan sepasang pelawak (salah satunya mantan penyanyi yang tidak terlalu sukses di dunia tarik suara lantas banting stir jadi pelawak. Sementara satunya lagi pelawak dengan penampilan khas rambut pirang panjang dikucir) memerankan kembar siam satu tubuh dua kepala dan dua pasang kaki. Bagi para penggagasnya, ide konyol tersebut barangkali tayangan yang sangat lucu.
Namun bagi saya dan keluarga justru sebaliknya. Selama ini kisah saudara-saudara kita yang bernasib kurang beruntung memiliki fisik berdempet adalah kisah penuh inspirasi tentang perjuangan manusia untuk bertahan hidup (struggle for survival). Beberapa di antaranya bisa tumbuh dewasa, bahkan meraih sukses meski dengan susah payah karena secara fisik tidak normal. Dalam banyak hal acap kali para kembar siam tersebut memiliki derajat rasa bersyukur yang lebih besar ketimbang mereka yang memiliki fisik normal.
Sayangnya di tayangan para pelawak OVJ pagi itu kembar siam cukup sekadar dijadikan bahan olok-olok. Sungguh sebuah bentuk kreativitas yang sangat primitif, menyakitkan, dan tidak layak ditonton.
***
Surat Pembaca
Dimuat di rubrik Surat Pembaca Harian KOMPAS Sabtu 27 Agustus 2011

Monday, September 05, 2011

Pemda Bandung Tidak Perlu Malu Belajar ke Kota-kota di Jawa Tengah

Mudik Lebaran 2011 Jakarta-Solo atau Bandung-Solo dengan menggunakan kendaraan darat memberi kesan yang sama dari tahun ke tahun. Bukan kepadatan arus kendaraan di sepanjang jalan. Bukan pula tetap tingginya tingkat kecelakaan lalu lintas selama arus mudik. Melainkan perbedaan kontras tata kelola jalan-jalan di kota-kota di Jawa Tengah yang saya lewati dibandingkan dengan kota kelahiran saya, Bandung...
Boleh dibilang, jika kita menutup mata sepanjang perjalanan maka kita akan mengetahui tengah berada di mana saat itu hanya dengan merasakan kemulusan laju roda kendaraan. Jika kendaraan berjalan tidak nyaman, bahkan banyak sekali mengalami guncangan keras, bisa dipastikan kita masih berada di area Jawa Barat. Namun jika mulai terasa mulus dan jarang terjadi guncangan meski dengan kecepatan tinggi, bisa dipastikan kita sudah memasuki kawasan Jawa Tengah.
Analogi tsb agak terasa lebay memang. Namun demikian kenyataannya. Mulai dari dalam Kota Bandung, misalnya di Jalan Laswi (sebagaimana dimuat di foto lampiran artikel opini ini) kita dipaksa menikmati ayunan kendaraan akibat jalanan bergelombang. Beberapa ruas jalan bahkan berlobang hingga ukuran sejengkal. Bisa dibayangkan bagaimana jika keadaan hujan.
Lain dengan di Jawa Tengah. Di Solo dan kota-kota sekitarnya (Boyolali, Karanganyar, Sragen, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri) jalanan mulus bahkan hingga ke pelosok desa.
Perjalanan penulis dari Kota Surakarta ke desa Gagak Sipat di Kabupaten Boyolali melewati jalan besar maupun keci;l yang rata, mulus lus...
Hal ini menimbulkan kesan ada perbedaan tabiat Pemerintah Daerah di dua lokasi berbeda. Jika di Jawa Tengah Pemerintah Daerahnya cukup komit dalam menyediakan fasilitas umum yang menjadi uratnadi kegiatan warga, di Jawa Barat sebaliknya. Pemda tampak malah kebingungan jika ditanya kenapa jalanan rusak dibiarkan bertahun-tahun.
Padahal, jika dibandingkan antara kota-kota di Jawa Barat dengan di Jawa Tengah tidak terlalu jauh. Beberapa kota di Jawa Tengah bahkan jauh di bawah kota-kota di Jawa Barat dalam hal kesejahteraan masyarakat dan PAD-nya...
Kodya Bandung, misalnya, dengan PAD 2010 sebesar Rp291 milyar, di atas PAD Solo sebesar Rp146 milyar atau PAD Boyolali yang "hanya" Rp80 milyar pada periode yang sama. Saudara sesusunya, Kabupaten Bandung, dengan PAD Rp165,2 milyar pada 2010 malah kondisi jalanannya lebih buruk lagi.
Anda yang pernah menyusuri ruas jalan Rancaekek-Majalaya dua atau tiga tahun lalu akan menyaksikan pemandangan yang sama di sana: Jalanan rusak parah, jika musim kering debu menyesakkan dada. Jika musim hujan lobang sedalam rata-rata sejengkal mirip kubangan kerbau menjadi jebakan maut bagi siapa pun yang lewat sana. Padahal, ruas jalan tersebut menjdi urat nadi perekonomian warga Bandung. Maklum, di Majalaya saja banyak terdapat pabrik dan sekolah. Demikian pula di Rancaekek.
Cukup jelas buat kita, visi dan kemauan untuk mewujudkan masyarakat sejahtera tampaknya sesuatu yang asing di dalam benak Pemerintah daerah Bandung, Kota maupun Kabupaten...
Sebetulnya, kalau Pemerintah Daerah dua kota itu saja (sebagai representasi kota-kota lain di Jawa Barat) bersedia belajar ke kota-kota tetangga di Jawa Tengah, semisal Solo atau Boyolali, lantas mencontohnya (tidak usah malu meniru hal yang baik), bisa saja warga Bandung akan lebih terbantu. Tidak seperti sekarang, warga Bandung dibiarkan berjuang sendiri memilih mana jalan yang masih bisa dilewati tapak ban kendaraan dan mana yang membahayakan...Bukankah seperti warga negara di kota lainnya, warga Bandung pun dikenai pajak ini itu oleh Pemerintah? Sekadar makan di pinggir jalan pun terkenda pajak. Apalagi pemilik kendaraan, setiap tahun kan mesti membayar pajak...Tidak adil jika sekadar melewati jalan raya mesti berakrobat menghindar jalanan yang bolong di sana-sini bahkan sepanjang tahun!!!
hiks

Tuesday, January 25, 2011

Keranjingan Forex

Ada yang berbeda di pabrik GPPJ Rancaekek belakangan ini. Sebagian penghuni pabrik yang berlokasi di kawasan timur Bandung tsb kini tengah keranjingan transaksi valuta asing atau foreign exchange (Forex)...

Maklum, hanya dengan sedikit "ngelmu" soal valas dan sedikit kemampuan komputer, mereka bisa langsung bertransaksi. Bukan main-main, ini transaksi mata uang asing.

"Lumayan pak, sambil dolanan, buka laptop di jam istirahat, dengan sedikit kejelian, bisa dapat 20 dolar sehari," ungkap Supardi, salah satu manager di GPPJ Rancaekek.

Pria asal Pati, Jawa Tengah ini mengaku semula tidak begitu tertarik dengan transaksi forex di internet. Selain kesibukan sebagai Manager Produksi di perusahaan makanan minuman yang dikenal dengan produk Kacang Garuda tsb, Supardi merasa itu bukan bidang yang berhubungan dengan aktivitasnya di perusahaan.

Sampai satu saat dia menyimak pembicaraan di sela makan siang, bahwa berdagang forex di internet tidak memerlukan kepintaran khusus. Cukup sedikit ketekunan dalam memerhatikan tren harga valas, dengan sedikit modal jadilah "pemain" di pasar valas.

"Sekarang saya mulai memahami forex ini, tidak sulit meski juga tidak terlalu mudah. Modalnya kesabaran dan jangan terlalu serakah," tandas Bapa tiga anak ini penuh semangat.

Hal lain yang menarik, demikian menurut Supardi, ketertarikan bertransaksi valas ini bisa dilakukan tanpa harus mengorbankan tugas dan pekerjaan utamanya di perusahaan tempatnya bekerja. Maklum, transaksi forex bida berjalan otomatis dengan "mengunci" di level tertentu.

"Yang penting modal cukup, dan tidak terlalu muluk dalam mematok target perolehan laba," ujarnya. Dia menambahkan, hal tersebut bisa dilakukan hanya dengan mengorbankan waktu maksimal satu jam. Dan itu bisa dilakukan di sela istirahat atau sepulang kerja di malam hari. Asal tahu saja, berdagang di pasar valuta asing secara online tidak mengenal jam kerja alias bisa dilakukan kapan saja.

Hal senada dikemukakan Agus Budi Jaya. Pria yang akrab disapa mbah Joyo ini mengaku cukup lama menjadi "pemain" di pasar Forex ini. Selain karena hobi dan didorong ketertarikan yang besar untuk bisa bertransaksi di dunia maya, Si mbah merasa dengan "main forex" dia bisa mendapat penghasilan tambahan.

"Saya bisa mendapat penghasilan lumayan ya dari forex ini pak, lumayan lah selain dapat penghasilan ya ilmu juga nambah sebab ini transaksi yang menuntut pemahaman menyangkut tren harga mata uang negara-negara di dunia," tutur mbah Joyo menjelaskan.

Supardi dan mbah Joyo setidaknya mewakili sekian banyak orang yang tengah keranjingan transaksi Forex di internet. Jika satu orang meraup pendapatan 20 sampai 500 dolar AS dalam sehari, sementara dalam waktu sehari ada ratusan bahkan ribuan orang semacam Supardi dan mbah Joyo, silakan hitung sendiri berapa nilai transaksi di pasar forex virtual ini.

Anda berminat? silakan berkunjung di pelbagai situs yang menyediakan fitur transaksi forex, salah satunya situs www.belajar-forex.com
***
Autor: abah
***

Tuesday, November 09, 2010

Milad. Demikian terminologi dalam bahasa Arab yang menggambarkan pertambahan usia baik manusia maupun lembaga. Kata-kata milad ini yang hari ini memenuhi mailbox saya baik yang di handset, yahoo.com, maupun di mailbox jatah kantor...Sebagian lagi ucapan selamat hari jadi dikirim dalam bahasa Indonesia, Selamat Ulangtahun. Sebagian lagi dalam bahasa jawa, sunda, dan Inggris...Tidak ada yang dalam bahasa Urdu atau bahasa isyarat (ya iyalah bah...gimana pula si abah ini...). Ada yg kirim doa, ada yg nunggu ditraktor eh ditraktir...ada pula yg tanya mau dikirim bunga (nah yg ini karangan belaka pembaca semua, mana ada yg romantis begini sama si abah..he..he..bunga bank kalee...).

Semuanya mengharukan. Semua menyiratkan perhatian baik besar, sedang, maupun kecil. Semua sangat bernilai. Sahabat, teman, saudara, masih mengingat si abah yang semakin berumur namun masih jauh dari bijak ini.

Termasuk teman-teman PT E tempat di mana si abah sekarang mencari nafkah (duh, mencari nafkah nih bah...emang dulu hilangnya di mana tuh si mbak Nafkah sampe dicari-cari ke Rancaekek segala...).

Terima kasih my lovely team HRS PT E (males sebetulnya nyebut PT E, yang pas kan BU E, kalo PT kan badan hukum, ya namanya mesti sesuai yg tertera di akta...mana ada nama PT E di akta)...Tidak menyangka, kata UmmiNur di rumah juga pas dikabari soal ini, baru dua bulan sudah dapat kiriman kue tart...Lha, itulah hebatnya di sini mi...
Suasana kekeluargaan benar2 terelaborasi dalam keseharian...(duh, elaborasi tuh apaan sih bah, pake bahasa yg sederhana emang kenapa siy...). Kendati didera "batuk bangkong" sejak dua hari lalu (abah ini aya-aya wae, nggak batuk aja kodok udah brisik, apalagi kalo batuk bah pasti rame ya), rasa senang dan bahagia (joy, not just happy) mendapat perhatian teman2 semua sungguh sangat mengesankan.

Terima kasih sahabat, terutama di PT E (lagi-lagi PT E, BU E kan bah)...semoga kita semua dapat selalu melewati segala sesuatu dalam suasana yang lebih baik...lepas dari perasaan penuh RO (rindu order).

Memang, sejatinya apa yang saya rasakan sekarang bukan perkara mudah. Di tengah deraan bencana banjir di Wasior, tsunami di Mentawai, serta belitan "wedhus gembel" dari letusan Merapi di DIY, menurut saya bukan perkara mudah untuk bersukacita di tengah penderitaan. Bersukacita disini bukan berarti tertawa terbahak-bahak, tidak menangis pada waktu masalah datang. Bersukacita disini dilihat dari kata bahasa Inggrisnya adalah JOY bukan Happy.
Kata ahli bahasa sih ada perbedaan antara JOY dan Happy. JOY adalah satu keadaan di mana seseorang masih bisa berbahagia dan bersukacita dalam menghadapi masalah bukan bersukacita pada saat tidak ada masalah/ saat mendapatkan hadiah atau keberhasilan. Dalam segala keadaan sakit atau sehat, gembira atau sedih, sukses atau gagal, bisa bersukacita dalam syukur dan tawakal kepada Allah SWT. Sedangkan Happy adalah satu keadaan di mana seseorang merasa bahagia dalam saat-saat bahagia tertentu misalnya saat ultah mendapat hadiah, saat berhasil, atau naik pangkat dan lainnya. Kendati sedang milad eh ultah, hari ini saya lebih suka mengenakan atribut joy, dalam artian keadaan serba penuh duka akibat bencana tidak ingin membuat saya melupakan rasa syukur mendapat berkah usia.

Perhatian sahabat, sejawat, semoga dapat menjadi suluh bagi perjalanan saya menuju keadaan di mana tidak ada lagi rasa gelisah dalam menghadapi persoalan hidup.

Terakhir, pepatah barat mengatakan; "usia itu sekadar deretan angka, merasa muda itu selamanya..."

Alhamdulillah, syungguh besar nikmatMu ya Rabb...jadikanlah hamba sebagai mahlukMU yang pandai bersykur...amiin

***
BU E, 9 Nov'2010

Meratapi Bandung Kini

Bandung dulu pernah dijuluki Kota Kembang. Selain mengandung makna kiasan kembang sebagai perempuan cantik, Kota kembang disebut-sebut menggambarkan keasrian kota ini dalam hal tata kota yang rapi dengan kembang di sana sini.
Ada pula yang menyebutnya dengan Parijs an java. Bukan karena di kota ini berdiri replika menara Eifel, melainkan karena penampilannya yang angat dan asri mirip Kota Paris di Prancis sana.
Itu dulu. Bandung kini jauh dari kesan asri. Selain jalanan sempit yang dijejali deretan toko pakaian dan makanan, kemacetan telah menjadi ciri khas lain kota Bandung. Pejalan kaki, mobil pribadi, angkot dan taksi, serta pedagang kakilima setiap hari saling berebut sepenggal tempat di jalanan.
Di akhir pekan ribuan mobil tumpah ruah memadati jalanan yang sudah sumpek. Tidak semua pengendara mobil pribadi di akhir pekan itu beradab. Sebagian di antaranya suka saling serobot. Ada pula yang leluasa membuang sampah di jalanan...
Di saat hujan mengguyur Bandung benar-benar menjadi Lautan Air. Ini tampak di hampir seluruh pelosok Bandung. Di Pusat maupun area pinggiran sama saja.
Memang, bukan perkara mudah mengelola Kota sebesar Bandung. Namun sudah pada tempatnya jika warga Bandung menuntut keseriusan Pemerintah Daerah (Pemda) dalam membenahi Kota tempat Konferensi Negara-negara se-Asia dan Afrika berlangsung ini.

Back to Bandung euy!
Perjalanan nasib membawa saya kembali mendekati Bandung. Sebagai warga yang terlahir di kawasan kumuh jalan Pasundan Bandung 41 tahun lalu, cukup lama saya meninggalkan Kota penuh kenangan ini. Selepas lulus SMPN 14 Bandung dulu saya "disumputkeun" ka Garut. Dari Garut sekolah berlanjut ke Solo, jawa Tengah. Sehabis itu mengadu nasib ke Bali, dan berlanjut mencari sesuap nasi di Ibukota.
Sumpek dengan kehidupan kota Batavia, perjalanan nasib membawa bekera di pinggiran dekat Bandung, tepatnya di Rancaekek. Sebuah kawasan antara Bandung-Garut yang bisa memberikan gambaran seutuhnya tentang Bandung kini: jalanan macet karena kakilima, banjir, angkot ngetem, kendaraan melawan arus, lengkap dengan para petugas polisi yang tampak sigap kalau menggelar operasi lalu lintas Namun acuh beibeh pada kesehariannya...
Tidak bijak rasanya berharap Bandung era 80-an. Ketika jalanan masih asri meski mulai dikepung para pedagang kakilima. Namun waktu itu kendaraan di jalanan belumlag sepadat sekarang. Paling tidak dulu semasa kecil masih ada wibawa Pemerintah.
Bukan seperti sekarang. Bandung seolah tanpa Pemerintahan. Padahal, Bandung Ibukota Provinsi jawa Barat. Kemana saja wahai pak Walikota, pak Gubernur?
Warga butuh ketegasan, jangan sampai Bandung tidak lagi penuh kembang...

Tuesday, April 20, 2010

Pemda Keblinger Satpol PP Klenger

Rusuh terkait penggusuran makam Mbah Priok (tokoh agama Islam di Jakarta) di Koja, Jakarta Utara selain menebar nestapa juga meninggalkan coreng hitam di muka Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta. Selain dinilai tidak becus, ada semacam kesengajaan Pemda mendahulukan aksi kekerasan ketimbang musyawarah.
Kebrutalan aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan massa di Kelurahan Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara (14/4) menuai kecaman banyak pihak. Puluhan warga yang terluka, bahkan masih tergolong anak-anak, tetap saja dikeroyok dan dihajar. Sebaliknya petugas Satpol PP yang sudah tergeletak dihajar sampai tak bergerak. Perilaku petugas Satpol PP yang arogan patut dikecam. Keberingasan massa juga tidak pantas dipuji. Sementara petugas kepolisian yang dinilai lamban dan cenderung membiarkan rusuh berlangsung bahkan sampai menelan korban jiwa sungguh tercela.

Terakhir, media massa melaporkan korban tewas akibat amuk di Priok menjadi tiga orang, yaitu W Soepeno, Ahmad Tajudin, dan terakhir Israel Jaya. Kamis malam Polda Metro Jaya mengumumkan sedikitnya tercatat 134 orang terluka akibat bentrokan tersebut. Para korban adalah 69 anggota Satuan Polisi Pamong Praja, 55 warga setempat, dan 10 polisi. "Dua di antaranya luka berat," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Komisaris Besar Boy Rafli Amar.
Kerugian material di antaranya 6 bus, 4 truk, dan sebuah meriam air milik polisi yang dirusak dan dibakar massa. Empat truk Satpol PP mengalami nasib serupa. "Kerugian total masih belum dihitung," ujar Boy sebagaimana dikutip Tempo Interaktif.


Musyawarah
Yang bikin gemas, setelah rusuh dibiarkan seharian penuh dengan korban jiwa, korban luka, kerusakan fisik, Pemda DKI lantas berinisiatif menghadakan pembicaraan dengan keluarga ahli waris amarhum Mbah Priok dan masyarakat setempat. Bukankah semestinya dibalik; Pemda terlebih dulu mengedepankan musyawarah sebelum mentok dan memilih jalur penggusuran meski berisiko munculnya aksi kekerasan?

Apa yang terjadi dalam kasus Koja sejatinya bukan hal pertama dalam sejarah penertiban yang dilakukan Pemda DKI. Kalau mau dirunut ke belakang setiap masalah sejenis berawal dari Pemda sendiri yang tidak becus dan tidak sudi melakukan tindakan pencegahan sebelum masalah membesar.

Keberadaan bangunan liar, misalnya, tindakan acap kali baru dilakukan setelah masyarakat menempati lokasi bertahun-tahun atau puluhan tahun. Andai sejak pertama kali lahan ditempati Pemda langsung mengingatkan mestinya warga tidak akan melawan.

Ini pula yang terjadi dalam penggunaan trotoar untuk berjualan para pedagang kakilima. Di saat pedagang mendirikan lapak atau jongko biasanya mereka dibiarkan saja. Meski mengganggu lalu lintas, di mana pejalan kaki karena trotoar diserobot memilih berjalan di badan jalan. Akibatnya jalan yang menjadi jatah pengendara kendaraan jadi terhalang, Kemacetan pun tak terelakkan, toh pelanggaran dibiarkan saja. Ini bisa disaksikan bahkan hingga sekarang di Perempatan Pasar Rebo, di Kramatjati, di Blok M, Cipulir, dan di hampir semua pusat keramaian di Ibukota.

Setelah masalah akut, kemacetan semakin menggila, seakan Pemda menjadi pahlawan dan tersadar untuk melakukan penertiban. Yang terjadi mudah ditebak, muncul perlawanan dari para pedagang karena merasa haknya berjualan diganggu. Tidak ada perasaan salah sudah berjualan di tempat terlarang, toh selama ini mereka merasa dibiarkan. Bahkan sebagai justifikasi, para pedagang berdalih mereka tidak gratis berjualan di sana. Ada upeti yang diserahkan setiap hari kepada oknum berseragam Pemda sebagai uang jaminan keamanan. Aneh, dalam kacamata mereka, jika uang disetor namun mereka tetap saja disuruh pergi. Ini terjadi dan terjadi menjadi sebuah lingkaran setan (vicious circle).

Dalam beberapa kasus penggusuran perlawanan massa tidak kalah beringasnya dengan aksi kekerasan yang dilakukan Satpol PP. Yang satu menjalankan tugas sebab jika tidak mau akan dipecat dan gaji pun distop. Sementara lawannya juga sami mawon, jika mengalah tidak berjualan maka periuk nasinya bisa saja lenyap alias terancam tidak makan...

Bagus jika Pemda DKI dan Pemda lainnya introspeksi. Lakukan pencegahan sebelum masalah berkembang tak terkendali. Soal semacam ini Para Gubernur, Walikota, atau Bupati tidak usah malu untuk belajar kepada Walikota Solo, Jawa Tengah. Jokowi, demikian Walikota Surakarta Joko Widodo biasa disapa, membangun tempat penampungan terlebih dulu sebelum menggusur pedagang di Pasar Triwindu. Penempatan lokasi baru diupayakan gratis. Sangat berbeda dengan kepongahan dan keserakahan Pemda lain. Jika menggusur seenaknya, kalaupun saat itu ada pembangunan atau penampungan biasanya yang digusur disuruh membeli dengan harga sangat mahal. Wajar jika mereka berteriak marah. Kalau sudah begini, yang repot semuanya. Behentilah menjadi pemimpin yang dungu. Belajarlah dari yang sudah terjadi.

Nah.

***

Tuesday, September 29, 2009

Wartawan itu Karni Iyas

Karni Ilyas di kalangan media massa bukan nama asing. Selain pernah menjadi wartawan majalah Tempo, memimpin majalah Forum Keadilan, dia juga sempat menangani divisi berita SCTV dan ANTV. Kini namanya identik dengan TV One.
Banyak yang memuji Karni khususnya menyangkut cara dia menjalin relasi dengan tokoh kunci di pelbagai institusi, yang berbuah pada karya liputan eksklusif bagi media yang dipimpinnya. Sayangnya, belakangan tatkala pemberitaan penembakan tersangka teroris di Temanggung, Jawa Tengah hasil liputan tim redaksi TV One menuai cemooh, alih-alih mendapat pujian.
Betapa tidak. Selain terkesan direkayasa, penembakan yang berujung tewasnya tersangka teroris di sebuah rumah juga telanjur memberitakan informasi keliru.
Reporter TV One yang mendapat hak eksklusif membonceng rombongan polisi di Temanggung begitu gagahnya menyatakan sebagai yang pertama memberitakan tewasnya Noordin M. Top. Sayangnya, kegagahan itu berubah menjadi kekonyolan tidak sampai sehari dengan adanya klarifikasi bahwa yang tewas bukan Noordin M. Top.
Begitu populernya Karni, sampai-sampai Kompas yang dinilai sebagai trend setter media memuat wawancara khusus denan pria bernama lengkap Sukarni Ilyas ini. Kompas antar lain melaporkan betapa prigel dan renginasnya Karni dalam menjalin dan memelihara link dengan narasumber penting di Mabes Polri sehingga tim wartawannya selalu mendapat liputan eksklusif, termasuk dalam liputan penembakan teroris oleh Densus 88.
Terkait hal tersebut, entah disadarai atau tidak baik oleh Karni maupun wartawan Kompas, dalm wawancara tersebut nyata benar sampai di mana kebesaran jiwa Karni Ilyas. Tatkala Kompas menanyakan soal liputan penembakan di Temanggung yang ternyata salah. Karni berkilah "itulah, sudah saya bilang..."
Alih-alih mengakui secara jujur adanya kekeliruan akibat ketergesa-gesaan, Karni malah menyalahkan wartawan yang tidak lain tidak bukan adalah anakbuahnya. Bagus dan sangat elegan jika di sana Karni mengakui secara ksatria perihal "salah lapor" TV One tentang tersangka teroris yang ternyata bukan Noordin M Top merupakan kesalahan sekaligus tanggung jawabnya selaku pemimpin redaksi.
Tapi, Karni Ilyas juga manusia. Manusiawi sekali jika di tengah popularitasnya pantang untuk menunjukkan kelemahan dan kekurangan. Kendati hal tersebut agak memalukan dilihat dari etika...
***

Monday, July 20, 2009

Foto SBY target teroris

Lagi, Jakarta diguncang ledakan bom. Korban tewas dan luka-luka berjatuhan. Lokasi ledakan dua hotel di Ibukota yag sistem penjagaannya super ketat: JW Marriot dan Ritz Carlton. Pelaku peledakan sungguh biadab, sebb lagi-lagi nyawa hilang sia-sia...

Kasus ledakan bom kali ini lebih parahnya lagi selain menelan korban juga karena dimanfaatkan Presiden SBY (yang tengah siap-siap menjadi presiden lagi) untuk mengkerek popularitasnya. Mengenaskan, alih-alih memerhatikan korban dan mengemukakan tekad pemerintah untuk memberi rasa aman kepada masyarakat, SBY malah dengan emosional ikut-ikutan merasa terancam bom dan teror.

Lha, so what gitu loh pak Presiden.

Lucunya lagi, SBY mengaku diancam karena intelijen menemukan foto dirinya dengan bercak hitam di muka yang katanya itu adalah bekas peluru sbg bukti dirinya dijadikan sasaran tembak oleh orang...
hua..ha..ha...lelucon garing dari orang bergelar doktor...

Hanya aku yang boleh, orang lain tidak

Begitu kira-kira yang ada di benak orang-orang di jalanan, di lokasi antrean pelayanan umum, dan di banyak lagi tempat lain di mana-mana.

Di tengah padatnya lalu lintas Ibukota setiap hari, bunyi klakson berarti pertanda kendaraannya mesti diberi jalan. Yang diberi klakson ya harus mengalah.


Di trotoar pedagang kakilima dengan jumawa menggelar dagangan. Pejalan kaki tidak berhak menggunakan trotoar. Kalau cuma jalan kaki silakan saja di pinggir jalan. Motor atau mobil terpaksa merayap atau terkadang menghentikan kendaraan sebab jalan digunakan pejalan kaki yang trotoarnya dikuasai pedagang. Jalanan pun macet.


Di jalur yang sama angkutan umum (angkota) merasa berhak berhenti berlama-lama dengan alasan mencari nafkah. Meski lampu menyala hijau tidak peduli, asal penumpang tetap berdatangan. Nanti kalau angkotnya penuh baru beranjak. Meski lampu merah, biarlah angkotnya tetap melaju. Lampu merah buat yg lain aja, saya boleh maju terus. Begitu kira-kira di benak sopir angkot.


Pindah ke ruang tunggu di bandara, seorang ibu duduk santai di sebuah kursi. Asik baca koran, dua tas besar, satu keranjang, dan kesek oleh-oleh memenuhi tiga kursi di kiri kanannya. Sementara calon penumpang lain berdiri mematung kelelahan karena tidak kebagian lursi.
"Saya kan datang duluan, berhak menggunakan semua kursi di sini, meski sekadar buat menaruh bawaan.." demikian kira-kira dalam benak si ibu. Hanya saya yang boleh duduk nikmat, yang lain sori lah yaw, demikian kata hatinya.


Hal yang sama dengan bentuk dan lokasi agak berbeda terjadi di tempat lain. Orang lain tidak boleh buang sampah sembarangan, kecuali saya. Mereka yang melempar sampah dari dalam mobil di jalan tidk beradab. Kalau saya yang melakukannya, itu karena kepepet.

Menyalip mobil tiba-tiba dari arah kiri sah-sah saja saya lakukan. Tapi kalau orang lain yang melakukannya pada saya, awas ya, akan saya kejar sebab dia tidak punya sopan santun berkendaraan.


ces't la vie,


begitu kata ELP dalam lagu hits mereka yg melegenda...

Tuesday, April 14, 2009

Pemilu dan Tabulasi Lembaga Survey

Menyimak hasil sementara perhitungan perolehan suara partai politik peserta pemilihan umum (Pemilu) 2009 di pelbagai website saya jadi teringat divisi recruitment di sebuah perusahaan (demi alasan etika, tidak saya sebutkan nama perusahaannya).

Bagian recruitment perusahaan tsb saat merekrut calon karyawan dalam jumlah besar biasanya memasang iklan di koran dan di website perusahaan. Di tengah sulitnya lapangan kerja, bisa ditebak apa yang terjadi kemudian. Si petugas bagian SDM pasca pemasangan iklan di koran biasanya kerepotan menyortir berkas lamaran yang masuk.
Maklum saja, "jumlahnya bisa tiga karung surat lamaran sekali tarik pak," kata karyawan yang bertugas mengurus lamaran tsb dengan mimik wajah sama sekali tidak lucu.

Lalu, bagaimana cara dia menyortir?
"Biasanya sih kita acak 'aja. Yang lebih sering kami proses malah lamaran yang masuk lewat e-mail. Berkas lamaran yang masuk melalui kantor pos karena jumlahnya berkarung-karung yang terpaksa kita cuekin," ujar supervisor PT X tsb dengan nada suara tanpa penyesalan. Padahal belasan ribu rupiah dikorbankan para calon pelamar untuk mengirim lamaran via pos.

Meski menyebalkan, kelakuan si supervisor bagian HRD tsb sangat masuk akal. Kalau ada yang siap di mailbox, ngapain repot?
Kembali ke tabulasi pasca pemilu, prasangka sebagian pihak, termasuk tokoh Parpol yang gagal meraih suara banyak serta pengamat yang kecewa Parpol jagoannya terpuruk, soal kuatnya dugaan petugas penghitungan suara di KPU mulai keleleran harus memilah dan memilih serta menghitung kertas suara seukuran koran yang jumlahnya puluhan juta bisa jadi benar adanya.

Didera kepenatan akibat kerja lembur setiap hari, di internet petugas KPU bisa memanfaatkan data hasil perolehan suara yang dipublikasikan pelbagai lembaga survey. Wajar jika kemudian sebagian kalangan menuduh KPU hanya menyontek tabulasi lembaga survey.

Tuduhan yang absurd namun sangat memungkinkan terjadi di sini. "Ngapain repot, toh ada yang siap tayang?" Soal akurasi, siapa pula yang peduli, toh Parpol mana pun yang meraih suara terbanyak tidak akan ada perubahan signifikan?

Alhasil, bisa saja tabulasi pasca pemilu hanya menjustifikasi hasil penghitungan suara lembaga survey swasta. Padahal, selain tidak jelas siapa yang membayar mereka, untuk kepentingan siapa mereka bekerja, hasil yang disajikan lembaga survey tersebut pun hanya berupa sample, bukan jumlah suara ril hasil Pemilu 2009.
Nah lho?
***

Thursday, January 08, 2009

"Like Father Like Son"

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun.
Tangan si kakek begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya.

Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah.

Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini.

"Kita harus lakukan sesuatu," ujar sang suami. "Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini."

Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya. Tiap kali nasi yang dia suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya.

Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu.

"Kamu sedang membuat apa?"

Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan."

Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul.

Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.

Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.

Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunan jiwa" yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk.

Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi.

Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi pemalu.

Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa bersalah.

Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar.

Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri.

Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi.

Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan.

Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin.

Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri.

Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mencari cinta di seluruh dunia.

Nah...
Author: anonym alias tidak dikenal, hapunten ka penulisna nya...ngutip kanggo blog teu wawartos heula...

Monday, November 17, 2008

Weleh..weleh...duh gusti...

Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika semua itu diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,

Seolah ...
semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah ...
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti,

padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja"
(WS Rendra).

Saturday, September 06, 2008

Artis di Pilkada

Tidak ada yang melarang siapa pun menjadi pejabat pemerintah atau anggota parlemen. Semua boleh selama ada yang sudi memilih. Tidak terkecuali artis. Baik artis yang bayaran perjamnya setara senior manager di perusahaan nasional, maupun penghibur yang didera sepi order, semua berhak dipilih.

Soal kompetensi dan kapabilitas tidak usah terlalu dipikir. Toh semua bisa dipelajari. Apalagi masyarakat mafhum, politisi yang sejak mahasiswa kenyang makan asam garam dunia politik dan kekuasaan pun kualitasnya banyak yang memble pas mereka menjadi menteri atau anggota DPR.

Banyak yang mencibir tren artis mengikuti pemilihan kepala daerah (pilkada) belakangan ini. Bisa apa mereka. Pelawak yang melawak saja tidak lucu, mana mampu menyambung lidah rakyat di DPR. Bintang sinetron yang aktingnya pas-pasan sudah pasti kebingungan jika diberi peran nyata menjadi Bupati atau Wakil Bupati sekalipun. Begitu kira-kira suara para pengecam tren artis maju di pilkada.

Padahal, kalau dipikir para pengecam itu juga tidak fair. Biarkan saja para artis maju di pilkada. Jika mereka tidak terpilih, berarti rakyat memang meragukan kemampuan mereka di panggung politik setara keahlian di dunia hiburan.
Sebaliknya, jika mereka terpilih itu artinya rakyat percaya, di samping sudah sebal dengan lagak laku politisi sekarang, entah anggota DPR atau pejabat pemerintah.
Alhasil, tren ini tidak perlu dibuat heboh. Apalagi, dengan memberi ruang kepada artis untuk menjadi pejabat berarti aktivitas mereka di pentas seni (seni peran, seni suara, seni apa saja) berkurang atau berhenti total. Ini artinya peluang buat artis pendatang baru untuk tampil. Ujung-ujungnya angka pengangguran kan sedikit bisa ditekan.
Begitu pakdhe, mbokdhe...
***
posted by abah

Thursday, August 14, 2008

Bush Kecam Invasi Rusia ke Georgia

Presiden AS George Walker Bush mengecam keras penyerbuan tentara Rusia ke Georgia. Menurut Bush, invasi tersebut tidak bisa dibenarkan karena melanggar kedaulatan negara lain serta mengancam kemanusiaan. Bersama Inggris Bush mendesak Rusia menarik pasukannya dari negara tersebut.

Berita yang saya lihat di layar CNN beberapa hari lalu benar-benar membuat saya tergelak. Lucu karena apa yang dipertontonkan Bush dalam pidato yang diliput wartawan dari pelbagai media massa tersebut nyata-nyata menunjukkan betapa dungu pemimpin Negara Adikuasa ini. Dungu karena orang di seluruh muka bumi yang menyaksikan tayangan tersebut akan langsung mengingat Irak, negara yang kini hancur lebur karena diserbu AS.

Benar, Rusia tidak terpuji menyerang negara tetangganya. Namun apa yang dilakukan AS di Irak sunguh sangat biadab. AS menyerang dan menghancurkan Irak. Setelah hancur, rakyat Irak terlibat perang saudara. Bom meledak di mana-mana setipa jam dalam setiap hari. Apa yang dialami rakyat Irak pasca serangan tentara AS adalah tragedi atas nilai-nilai kemanusiaan.

Belum lagi negara lain korban AS sebelum Irak, semisal Afghanistan, yang bentuknya saja sudah tidak karuan akibat bom yang meluluhlantakkan negeri gurun penghasil opium tersebut. Pemicunya sederhana, Bush berpendapat negara tersebut menyembunyikan Osama bin Laden yang dituduh berada di balik serangan atas menara kembar WTC di New York dulu sehingga pantas dibom dan dihancurkan.

Bush memang busuk, karena apa yang keluar dari mulutnya selalu berbau tidak sedap. Mengecam aksi serangan yang dilakukan negara lain, sementara dirinya tidak pernah segan memerintahkan serdadunya menyerbu atau mengebom negara lain. Bush tidak peduli serbuan tentaranya menyebabkan kerusakan tak terperi dan kematian jutaan rakyat yang tidak pernah melakukan kesalahan apa pun terhadap Amerika atau bahkan kepada Bush...

***

Wednesday, July 16, 2008

Menjadi Ibu Rumah Tangga, Berani?

Dilema perempuan yang memilih berkarir sebagai ibu rumah tangga atau di luar rumah selalu saja aktual. Sahabat bernama Bayu "Gaw" Gawtama, CEO School of Life - SOL) berbagi cerita dengan kita di sini, tentang perempuan yang memilih meninggalkan karir cemerlang di sebuah perusahaan karena ingin bekerja "full-time" sebagi ibu rumahtangga di rumah...
Pengunjung Warung-Abah yang baik hati, selamat menikmati "olah kata" Gaw berikut ini...

***

Seorang sahabat mengungkapkan rencananya untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempat kerjanya. Ia merasa tidak takut meninggalkan karirnya yang sudah belasan tahun dirintisnya dari bawah. “sayang juga sebenarnya, dan ini merupakan pilihan yang berat, terlebih ketika saya merasa sudah berada di puncak karir,” ujarnya.

Lalu kemana setelah resign? “yang ada di pikiran saya saat ini hanya satu, menjadi ibu rumah tangga. Sudah terlalu lama saya meninggalkan anak-anak di rumah tanpa bimbingan maksimal dari ibunya. Saya sering terlalu lelah untuk memberi pelayanan terbaik untuk suami. Bahkan sebagai bagian dari masyarakat, saya sangat sibuk sehingga hanya sedikit waktu untuk bersosialisasi dengan tetangga dan warga sekitar”

Tapi, ibu nampaknya masih ragu? “bukan ragu. Saya hanya perlu menata mental sebelum benar-benar mengambil langkah ini”.
“Rasanya masih malu jika suatu saat bertemu dengan teman-teman sejawat atau rekan bisnis. Saya belum menemukan jawaban yang pas saat mereka bertanya, “sekarang Anda cuma jadi ibu rumah tangga?”

Saya tersenyum mendengarnya, mencoba memahami kesesakan benaknya saat itu. Teringat saya dengan seorang sahabat lama yang saat di sebuah forum wanita karir di Jerman lantang menjawab, “profesi saya ibu rumah tangga, jika diantara para hadirin ada yang mengatakan bahwa ibu rumah tangga bukan profesi, saya bisa menjelaskan secara panjang lebar betapa mulianya profesi saya ini dan tidak cukup waktu satu hari untuk menjelaskannya”.

Luar biasa. Sekali lagi luar biasa. Saya harus hadiahkan acungan jempol melebihi dari yang saya miliki untuk sahabat yang satu ini. Saya tuturkan kisah ini kepada sahabat yang sedang menata hati meyakinkan diri untuk benar-benar menjadi ibu rumah tangga, bahwa ia takkan pernah menyesali pilihannya itu. Kelak ia akan menyadari bahwa langkahnya itu adalah keputusan terbaik yang pernah ia tetapkan seumur hidupnya.
Naluri setiap wanita adalah menjadi ibu. Adakah wanita yang benar-benar tak pernah ingin menjadi ibu?
Percayalah, pada fitrahnya wanita akan lebih senang memilih berada di rumah mendampingi perkembangan putra-putrinya dari waktu ke waktu. Menjadi yang pertama melihat si kecil berdiri dan menjejakkan langkah pertamanya.
Ia tak ingin anaknya lebih dulu bisa berucap “mbak” atau “bibi” ketimbang ucapan “mama”. Tak satupun ibu yang tak terenyuh ketika putra yang dilahirkan dari rahimnya lebih memilih pelukan baby sitter saat menangis mencari kehangatan.
Ibulah yang paling mengerti memberikan yang terbaik untuk anaknya, karena ia yang tak henti mendekapnya selama dalam masa kandungan. Sebagian darahnya mengalir di tubuh anaknya. Ia pula yang merasakan perih yang tak tertahankan ketika melahirkan anaknya, saat itulah kembang cinta tengah merekah dan binar mata ibu menyiratkan kata, “ini ibu nak, malaikat yang kan selalu menyertaimu”.

Cintapun terus mengalir bersama air kehidupan dari dada sang ibu, serta belai lembut dan kecupan kasih sayang yang sedetik pun takkan pernah terlewatkan.
Ibu akan menjadi apapun yang dikehendaki. Pemberi asupan gizi, pencuci pakaian, tukang masak terhebat, perawat di kala sakit, penjaga malam yang siap siaga, atau pendongeng yang lucu. Kadang berperan sebagai guru, kadang kala jadi pembantu. Jadi apapun ibu, semuanya dilakukan tanpa bayaran sepeserpun alias gratis.
Sahabat, bukan malu atau bingung saat harus berhadapan dengan rekan bisnis. Katakan dengan bangga baru sebagai ibu rumah tangga. Sebab sesungguhnya, mereka pun sangat ingin mengikuti jejak sahabat, hanya saja mereka belum mengambil keputusan seperti sahabat. Tersenyumlah karena anak-anak pun bangga dengan langkah terbaik ibunya. –Gaw, 2008-

Thursday, July 03, 2008

Nah, ini dia...

Kea'zia Yasmina Frida
Dik Frida, kami memanggilnya. Sebetulnya setelah adiknya, Rayya Aisha lahir dia ingin dipanggil Teh Frida. Kok nggak dipanggil mbak Frida?

"Males ah, enakkan teh Frida aja," tegasnya.

Frida lahir di Jakarta 7 November 2001. Entah karena kesamaan bulan lahir --November--atau karena memang sudah satu sifat anak dan bapak (like father like daughter), Frida dan sang abah memiliki beberapa kemiripan baik sifat maupun selera .

Frida Senang musik, abahnya juga. Nasyid suka, musik pop jadul juga oke. Dik Frida mudah "pundung" (ngambek), abahnya juga mutungan. Dik Frida sayang sama Umminya, abahnya juga (oooppss...jangan ge-er dulu ya Ummi Nur)


Frida juga suka menari. Abahnya suka joget ala pendekar mabuk (drunken master). Kalau di rumah, kami bisa berlama-lama lenggak-lenggok menari dengan gaya aneh sekenanya diiringi musik dari MP3 player. Tarian kami bebas 'aja. Kadang gaya 'mencuci baju', kadang meniru Kadir lengkap dengan aksi "merem-melek", atau adegan 'mencangkul di sawah'...Pokoknya seru dan bikin capek deh! Dan yang terpenting, jangan ada yang melihat, karena ini tarian khusus kami sekeluarga...Orang lain, punten, tidak boleh tahu kami joget... Yang jelas, kami belum berhenti berjoget kalau UmmiNur belum tertawa...

Oya, sebelum dik Rayya lahir, dik Frida punya pipi tembem, ketembeman pipinya dibanding pa***t bedanya tipis. Makanya abah suka tanya sama dik Frida, "dik, ini pipi apa pa***t?" Wak..kak..kak...Habis itu mendarat deh ini muka di pipinya yang mentul-mentul... mmuah kenceng sampai adik nangis bombay...

Sayangnya, belakangan batuk-batuk dik Frida kembali kumat. Selera makannya menurun drastis. Makan agak banyak langsung mual dan muntah. Jadinya dik Frida mirip burung Kutilang (kurus, tinggi, langsing). Padahal, Umminya malah tambah melaaar ke samping... wak..kak..kak... maaf ya mi, abah kan ngga bilang Ummi gendut, cuma melebar ke samping... he..he...

Jujur saja, dik Frida punya raut wajah manis. Malah kalau berjilbab dik Frida juga jauh lebih cantik, ngga cuma manis... (Deu...namanya juga anaknya, siapa lagi yang memuji kalau bukan abahnya.. tul ga sodara-sodara?). Lha, tapi Frida juga pede abis. Coba aja tanya, apa adik cantik? Pasti jawabannya "cantik...!"

Dik Frida atau Teh Frida juga cerdas. Meski masih agak-agak lugu khas balita, di kelas termasuk cukup menonjol prestasi belajarnya. Kenaikan kelas kemarin raportnya bagus, dapat ranking ke-3. Yah, turun sih, semester awal rankingnya ke-2, tapi lumayan lah.

"Daripada ranking lima atau bahkan sepuluh, masih mending ranking tiga kan bah?" kata Frida ngeles.
Benar juga sih dik. Lagi pula, ranking tiga bukan hal buruk. Insya Allah, jika belajarnya lebih giat lagi ranking pertama pun bukan hal sulit buat adik cantik. Nanti kalau kelas dua nilai raport dan rankingnya lebih bagus lagi ya.. Tambah rajin belajar, ngocolnya dikurangi, jangan keseringan main Barbie... Abah sayang banget sama adik...I Love You....
mmmmmuuaaaachhhh...
Haidar Zein
Nah, kalau yang ini tentang kakaknya dik Frida, namanya Haidar Zein. Gayanya kalau di rumah paling kalem (woalah...tambah gede tuh hidung dibilang kalem... Maksudnya Kayak Lembu Mrongos ngos Aa...). Apalagi kalau pas ada film CARS di Astro TV. Dijamin si Aa jadi anteng, camilan pasti ludes. Remote control juga sudah pasti tambah basah diemut habis..wak..kak...kak...

Berbeda dengan adiknya, Haidar atau biasa disapa Aa Zen, tidak begitu suka berbasa-basi. Perhatiannya pada segala jenis mobil sangat besar. Maunya hapal semua merek mobil. Mainan pun kebanyakan mobil-mobilan...Mulai yang warnanya kinclong kayak McQueen hingga yang bulukan dan berkarat kayak si Tow Matter dan mobil karatan gerombolan mobil Rusteeze...he..he...(btw, kenal nama-nama tsb kan? Itu tuh, tokoh-tokoh di film the CARS produksi PIXAR-Disney).

Alhamdulillah, Aa Zen juga termasuk pandai di sekolahnya. Meski seperti dik Frida, ranking Aa pas kenaikan kelas juga melorot ke urutan 4 dari ranking 3 di semester awal. Tapi tidak perlu berkecil hati lah yaw. Aa sebetulnya pintar. Namun penyakit bengong dan ngowohnya itu lho yang mesti dikurangi...

Aa Zein agak acuh tak acuh. Jangan pernah bertanya dua kali untuk hal yang sama kepada Aa Zein. Bisa dicuekin 'abis... Meski begitu, Aa sangat sayang sama kedua adiknya. Yah, kalau soal usil sama adiknya itu mah biasa. "Asal jangan keseringan aja ya A...bisa rame atuh..."

Haidar termasuk anak tipe "fast learner", diajari apa aja cepat mengerti. Andai sifat cueknya dikurangi, bisa jadi dia akan selalu ranking pertama di kelasnya. Beneran loh, kagak nyombong..


Dia juga suka sekali main game, baik di komputer atau laptop maupun di gamewatch dua puluh rebu perak yang dibeli di warung Abah Aen (ini bukan Abah Epoy, sama-sama panggilannya abah, tapi beda banget). Dalam hal ini si abah agak segan mengenalkan Aa dengan Playstation. Bisa addict, 'ngeri deh...ntar si abah tambah dicuekin kalau Aa sudah kecanduan PS...

Nah, kalau di bawah ini foto Rayya Aisha di usia enam bulan. Dik Aya, ini panggilan sayang kami di rumah, lahir 24 Desember 2007. Subhannallah...semakin hari Aya semakin lucu aja. Ketawanya, ulahnya kalau lagi ngangkat kaki berulang ulang, atau gayanya pas berguling cepat... membuat kami betah berlama-lama di dekat dik Aya...

Tapi kalau punya buku bagus jangan dekat-dekat dik Aya. Sebab si bungsu ini punya kebiasaan buruk ngemut buku atau apa saja sampai meleleh basah...Selebihnya hanya lucu dan kocak yang kami temui pada diri dik Aya...

Dulu kalau lagi bete di rumah, paling muring-muring, atau pergi naik motor cari makanan ringan. Belakangan, kalau lagi jengkel si abah sudah punya solusi. Main saja sama Aya, tatap ekspresi wajahnya yang lucu. Dijamin kemarahan mereda.

Ya Allah, ya Rabb...limpahkanlah keberkahan kepada keluarga kami. Jadikan kami orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat dari-Mu. Tempatkanlah kami bersama orang-orang yang senantiasa tawakal di jalan yang engkau ridhoi...
amiin...

Thursday, June 12, 2008

Bersama Kita Bisa Sama-sama Konyol

Sudah menjadi hukum alam, sebuah aksi akan mengundang reaksi. Aksi konyol direspon dengan kekonyolan, hanya akan menimbulkan rentetan kekonyolan baru. Demikian yang terjadi belakangan ini.

Kekonyolan pertama dipertontonkan sekelompok orang yang mengaku pendukung kebebasan beragama berbendera AKKBB menggelar aksi menentang pelarangan Ahmadiyah. Mereka menganggap Ahmadiyah bukan sekte sesat dan patut dibela. Konyol karena sebagian dari mereka bukan penganut Islam, namun merasa tahu soal urusan Ahmadiyah. Mereka konyol mencampuri internal umat Islam yang tengah resah karena penistaan ajaran Islam oleh penganut Ahmadiyah.

Kekonyolan ini mengundang kekonyolan kedua; aksi pemukulan oleh kelompok massa FPI. Kedua kelompok berseberangan pendapat, namun konyolnya, yang diperagakan aksi kekerasan fisik (kasusnya dipopulerkan media massa sebagai peristiwa Monas).

Ini menimbulkan kekonyolan baru; peliputan media massa cetak, internet, dan elektronik secara berlebihan. Semua media, besar maupun gurem melaporkan peristiwa Monas dalam headline mereka setiap hari. Para wartawan, seakan tengah didera wabah “mati angin”, melaporkan peristiwa Monas dari pelbagai aspek setiap hari. Tidak ketinggalan kelompok infotainment, semua menempatkan kasus ini sebagai fokus liputan. Koran dengan pendapatan iklan terbesar hingga tabloid yang “terbit Senin-Kamis” setiap hari mem-“blow-up” peristiwa Monas sebagai headline berhari-hari.

Ini bentuk kekonyolan yang dipamerkan media massa. Demikian pula stasiun teve, mulai dari yang bertabur iklan, hingga stasiun teve yang megap-megap mengais iklan, rame-rame mengulang tayangan peristiwa Monas di layar kaca. Mereka juga konyol, sebab sebetulnya masih banyak peristiwa lain yang patut mendapat tempat terhormat sebagai headline, misalnya dampak kenaikan BBM yang berpotensi memicu krisis ekonomi, nasib korban Lapindo, atau penanganan kasus korupsi.

Karena media massa secara konyol mencurahkan seluruh ruang untuk meliput habis-habisan peristiwa ini, muncul kekonyolan susulan. Yakni reaksi pemerintah yang berlebihan dan tidak masuk akal; Presiden, Wapres, menteri, anggota DPR, hingga Kapolri angkat bicara, bahkan sampai menggelar rapat khusus seakan-akan tengah membahas wabah ganas yang mengancam nasib jiwa seluruh jagat Indonesia.

Reaksi pejabat bisa dimaklumi, karena sudah tabiat mereka; hanya sudi merespon apa-apa yang tengah dipopulerkan media massa. Konyol karena para petinggi dan pejabat negara jadi tampak dungu dan seperti kurang kerjaan saling bersahutan angkat bicara menyoal peristiwa Monas. Mungkin pula mereka antusias demikian karena berharap dengan rame-rame konyol masyarakat menjadi lupa dampak kenaikan BBM.

Cukupkah sampai di sini semua kekonyolan itu? Rupanya belum, karena ada kekonyolan tambahan; sekelompok tokoh lokal tingkat kampung dan kecamatan tidak ingin ketinggalan bersikap konyol dengan mengerahkan pasukan jin dan laskar kebal senjata tajam untuk membubarkan FPI. Soal apa salah dan dosa FPI itu urusan belakangan, yang penting ikut-ikutan serbu, meski tampak konyol. Toh, panutan mereka di pusat juga sudah lebih duluan konyol.

Sementara di jalanan, di kampung-kampung, di pelosok kota, orang masih dengan penampilan seperti sebelum peristiwa Monas terjadi. Mereka kian lusuh, tatapan mata mereka juga semakin hampa akibat didera kesulitan hidup pasca naiknya harga BBM. Demikian pula di Porong, Jawa Timur sana, ribuan pengungsi korban banjir lumpur panas Lapindo semakin tidak mengerti mengapa para pejabat lebih riuh bersahutan membahas peristiwa Monas ketimbang serius memikirkan solusi atas nasib mereka. Rakyat pinggiran, mereka itu, juga bingung mengapa media massa lebih bernafsu mengupas peristiwa Monas. Apakah wartawan telanjur penat memberitakan nasib buruk mereka yang didera pelbagai kesulitan ekonomi?

Sungguh, nyata dan terang benderang benar, sebuah kekonyolan yang direspon kekonyolan lain senantiasa hanya akan menghasilkan bentuk kekonyolan baru, bahkan kedunguan. Ayo, siapa menyusul menciptakan kekonyolan lain? Bersama kita memang bisa sama-sama konyol dan dungu.

Thursday, April 24, 2008

Kata Dia, "SBY pinter nyanyi kok dikritik..."

Seorang pengusaha jamu menulis opini di koran. Ia menyayangkan masyarakat yang mengritik Presiden SBY karena lebih mementingkan membikin album lagu tatkala warga Porong, Sidoarjo, dibekap lumpur panas Lapindo.

Para pengritik, demikian sang tokoh mengulas, tidak bisa menghargai seni. SBY memiliki kepedulian menyalurkan bakat seni, mestinya diapresiasi tinggi. Apalagi tugas sebagai presiden sangat berat. Dia menyodorkan contoh para pemimpin dunia macam Ronald Reagan yang berlatar belakang aktor film ketika terpilih sebagai Presiden AS dulu. Rakyat AS, kata dia, sangat respek atas jiwa seni Reagan. Sederet contoh “pemimpin dunia berjiwa seni” disodorkannya untuk menguatkan pembelaannya pada Presiden yang pandai bernyanyi dan mencipta lagu.

Sayangnya, selain bertubi-tubi memuji SBY, penulis luput menyertakan bukti-bukti prestasi yang ditoreh Presiden. Alih-alih menyambut baik pengritik, penulis yang di setiap era selalu dekat dengan kekuasaan malah menuding rakyat tidak berjiwa seni dan tidak pandai menghargai Presiden yang pandai menyanyi dan mencipta lirik lagu.

Padahal, sebagaimana lazimnya kritik, apa yang meruyak di permukaan hanyalah lontaran pertanyaan sederhana. Yang diperlukan juga tidak banyak, cukup jawaban yang masuk akal. Bukan bersahut kritik apalagi lontaran cemooh. Dari sini, kalau memang benar penulis pengagum Presiden yang pandai menyanyi, jawab saja pertanyaan; sebegitu banyak waktu yang dimiliki SBY sehingga dia bisa menggarap album lagu bahkan hingga dua kali? Atau sebaliknya; sedemikian sibukkah sang Presiden hingga lumpur panas Lapindo luput dari perhatiannya?

Bukankah mereka yang terusir paksa dari desanya gara-gara banjir lumpur Lapindo juga rakyat SBY sama seperti penulis Opini yang pengusaha jamu? (Hati-hati lho, di antara ribuan rakyat terusir lumpur panas Lapindo bisa jadi ada konsumen setia jamu produksi perusahaan penulis..he..he...mana dong jiwa Customer Satisfaction anda wahai penulis nan budiman?)

Penulis mestinya mafhum, justru di kala SBY menyiapkan peluncuran album kedua, di media massa muncul berita seorang pedagang gorengan nekat bunuh diri karena tidak sanggup berdagang lagi akibat harga-harga tinggi. Di koran kabar kolaborasi rekaman musik SBY dengan Darma Oratmangun si penggubah lagu bersahut riuh dengan berita tentang antrean panjang jelata yang berharap dapat satu dua liter minyak tanah.

Belum lagi kasus gedung sekolah ambruk karena minimnya perawatan. Atau anak jalanan dan pengangguran yang bertambah berselang-seling dengan berita soal ancaman kelaparan akibat krisis pangan. Dalam perspektif ini sungguh sangat relevan menyoal lagak laku Presiden yang masih pede tampil di depan umum mendendangkan lagu (meski lagunya sendiri sangat idealis utopis memuja-muja kebesaran bangsa dan Tanah Air) sementara rakyat banyak hidup kesusahan bahkan untuk sekadar memenuhi kebutuhan mendasar.

Alhasil, unek-unek tokoh yang identik dengan humor dan Museum Rekor Indonesia (MURI) mudah dibaca sebagai tipikal serapah seorang penjilat yang tengah berupaya memikat hati sang Tuan yang tengah duduk nyaman di singgasana. Barangkali saja si Tuan yang dalam hal ini dipuji sebagai mahluk langka (Presiden Penyanyi dan Pencipta Lagu) ini berkenan dan bersedia dijadikan sahabat sang tokoh.

Udah ah...jadi kemana-mana...

Friday, February 22, 2008

Celana Melorot

Ini berita dari Amerika Serikat, negara yang dikenal sangat liberal. Kota Alexandria dan Shreveport dua kota di negara bagian Louisiana, AS membuat peraturan baru: melarang remaja putra dan putri mengenakan celana melorot di bawah pinggang yang memperlihatkan (maaf) celana dalam mereka.

Peraturan itu, tulis Kantor Berita AFP Prancis pekan lalu, diterima secara bulat. Larangan ini lahir setelah warga memprotes gaya berpakaian para remaja, yang berjalan dengan celana melorot di bawah pinggang itu. Gaya tersebut, menurut Konselor Kota Alexandria, Louis Marshall, tidak sopan.

Louis Marshall, yang hidup dalam tradisi demokrasi, beruntung. Pelarangan itu sama sekali tidak menuai protes. Tidak ada aktivis yang menyatakan peraturan tersebut melanggar hak asasi manusia, antipluralisme, dan konservatif.

Bayangkan jika di Indonesia, negara yang baru saja menghirup udara demokrasi. Louis Marshall akan dikecam dan dianggap telah membunuh kebebasan individu untuk berkreasi. Keputusan pelarangan tersebut bahkan akan diejek sebagai 'campur tangan pemerintah terhadap hak pribadi warga negara'.

Ini yang terjadi di Indonesia. Pada Desember 2004, seratus hari pemerintahannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan kegusarannya atas tayangan televisi. Melalui Menko Kesra Alwi Shihab ketika itu, Presiden yang kuat memegang norma agama dan sosial itu meminta media televisi untuk tidak mempertontonkan pusar perempuan. "Itu sangat mengganggu," kata Presiden saat itu.

Pernyataan SBY itu baru sebatas permintaan, belum menjadi keputusan. Namun, tidak terlalu lama berbagai reaksi dari kalangan aktivis perempuan bermunculan dalam diskusi-diskusi dan tulisan di media massa. Mereka antara lain menyatakan, SBY telah melanggar prinsip demokrasi, terhadap hak asasi, dan kebebasan individu berekspresi.

Mereka menentang keras pernyataan SBY itu. Menurut mereka, apabila negara dibiarkan mengatur hak pribadi warga negara, di antaranya soal pusar tadi, maka demokrasi dan kebebasan individu untuk berkreasi, pun mati. Itu pulalah yang menjadi alasan mereka menentang Rancangan Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi. Apabila disahkan, maka RUAPP tersebut akan mengatur tubuh perempuan demi kepentingan politik konservatif.

Alexandria dan Shreveport, dua kota di negara bagian Louisiana, AS, telah memberlakukan keputusan, yang melarang remaja putra dan putri mengenakan celana melorot. Keputusan itu disambut baik warga, yang sejak lahir telah menghirup udara demokrasi. Tidak ada yang protes dan menyebutnya sebagai antikebebasan berekspresi, antipluralis, konservatif, dan pertanda matinya demokrasi.

Demokrasi, sistem yang memiliki berbagai kelemahan, sesungguhnya tidak mati hanya karena pelarangan celana yang melorot dan pelarangan memperlihatkan pusar. Pandangan yang berlebihan terhadap demokrasilah apalagi membenturkannya dengan nilai-nilai di masyarakat, nilai-nilai agama, dan menyebutnya sebagai konservatif yang memungkinkan sistem itu kehilangan esensinya.

Di Alexandria dan Shreveport, remaja-remaja tidak lagi mengenakan celana melorot. Mereka tidak merasa menjadi konservatif apalagi antidemokrasi. Di Indonesia, para remaja bebas membiarkan (maaf) celana dalamnya menyembul. Inilah yang disebut para aktivis sebagai kebebasan berekspresi. Dan, para aktivis itu sangat takut demokrasi mati hanya karena remaja menutup pusarnya.

Oleh: Asro Kamal Rokan
source: www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=305781&kat_id=19

Menahan diri, bisakah

Bersabar. Sungguh sebuah kata yang mudah diucapkan namun sulit dilaksanakan justru ketika kita memerlukannya. Itu yang saya alami Rabu petang (20/2) pas azan mahrib berkumandang.

Waktu itu semangat menggebu dipicu rasa kangen pada seisi rumah mendadak berubah menjadi rasa lemas berbaur dengan emosi karena dua buah hati tengah asyik di depan teve. Entah kenapa petang itu kedua anak melanggar SOP di rumah kami, yakni dilarang menyalakan teve pas azan sekaligus tidak ada tayangan teve sesudah maghrib kecuali hari libur.

Merasa paling benar, lantas keduanya diberi peringatan keras agar segera mematikan pesawat teve. "Jika tidak langganan Astro diputus, tidak ada acara nonton teve untuk waktu yang akan diatur kemudian," begitu kira-kira pernyataan yang terlontar malam itu.

Reaksi keduanya?
Si Aa langsung memasang ekspresi muka masam seraya beranjak ke kamar dan langsung menelungkupkan badan di kasur. Untung tidak ada aksi banting pintu seperti biasa kalau dia lagi ngamuk. Sementara si kecil masih bertahan di depan teve dengan dalih "habis ini udah kok bah."

Melihat "aksi pembangkangan" emosi pun meluap, dan tak tetahankan bentakan pun terlontar.
Astaghfirullah, lagi-lagi emosi tak terbendung. Si adik melengos dan ikut-ikutan kakaknya masuk kamar. Refleks tangan ini mematikan teve, mencabut kabel dari steker, dan melempar remote control ke keranjang cucian.

Persoalan beres? Rupanya tidak. Karena kini saya berhadapan dengan dua jiwa belia yang ngambek dan tidak habis pikir "kok nonton sebentar 'aja nggak boleh...", begitu kira-kira dalam benak Aa dan dik Frida.

Tidak mudeh memang menghadapi situasi ini. Seperti disinggung di atas, kesabaran mudah diucapkan, diyakini kebenarannya, namun justru sangat tidak mudah untuk melaksanakannya.

Alhamdulillah, keadaan tidak berlarut-larut. Keesokan pagi harinya Aa dan dik Frida bangun pagi dengan ceria, pergi mandi, sarapan segelas susu hangat, dan berangkat ke sekolah dibonceng ojek abah...

Kata Ummi Nur, sore sepulang sekolah kedua anak menanyakan perihal larangan nonton teve malam hari selain hari libur. "Teman Aa ada yang boleh nonton sampai malam kok Mi," kata si cikal Haidar.

Untungnya Ummi Nur dengan bijak menjelaskan, "Tentu saja, bisa jadi di rumah teman Aa boleh, masalahnya peraturan di masing-masing rumah kan bisa berbeda," kata Ummi. Ada yang sepakat membatasi acara nonton teve, ada pula yang membolehkan teve menyala sepanjang hari dan malam meski sedang tidak ditonton sekalipun.

Subhanallah, si Aa menerima penjelasan panjang lebar Umminya. Buktinya, wajah Aa, apalagi dik Frida, kembali sumringah tatkala abahnya pulang Kamis petang harinya. Alhasil, emosi yang sempat meruyak, kemarahan yang pernah tak tertahankan sebetlnya sia-sia jua. Toh, dua permata hati masih menyisakan ruang untuk sebuah logika berupa penjelasan dari kedua orangtuanya. Hal lain, mereka tetap saja polos dan pandai memaafkan abahnya yang suka tidak sabaran, mudah emosi...

Ya Rabb, masukanlah hamba ke dalam kelompok mereka yang selalu mengutamakan kesabaran dalam segala hal. Sesungguhnya engKau senantiasa bersama orang yang sabar...

Tuesday, February 12, 2008

"Idung Guede..."

"Eh..., katanya teh Frida, dik Aya hidungnya guede? bener nggak sih?" Coba 'aja tanya Aa Zen, barangkali bener.

Tapi kalau tanya Aa Zein kayaknya susah deh... Maklum saja, si Aa itu kalau yang tanya adiknya paling juga jawabannya.. "Tauk deh..." atau paling banter cuma manyun, sambil ngomel "..dasar cemplu, gitu aja ditanyain...".

Cuek memang si Aa ini. Meski begitu Aa setuju hidung dik Aya ga kayak hidung Petruk. Baru denger Petruk? Itu loh tokoh spesialis dagelan di kisah pewayangan tanah Jawa. Biasanya Petruk memerankan sosok bingungan, agak sok tau, tapi dikisahkan jujur. Katanya sih...kata pak dalang ki Manteb Utomo Sosrojoyo Nincak Sukro Ngaborolo Beak Kedjo Saboboko...

Yang jelas, kata Matra'i, Allah sungguh sangat piawai dalam merencanakan penciptaan setiap mahluknya termasuk yang ada di muka bumi. Dalam hal penciptaan hidung contohnya. Bayangkan, andai hidung diciptakan dengan lubang menghadap ke atas, misalnya, dipastikan setiap saat dunia akan gaduh karena suara orang bersin bersahut-sahutan, tanpa henti.

Gede-cilik, pesek-mancung, bulet-gepeng, selama masih memiliki hidung yang berfungsi baik sebagai alat utama penciuman dan pernafasan manusia sejatinya patut bersyukur. Lha, ketimbang ga punya hidung?

Alhasil, semuanya menjadi bermakna tatkala kita mampu mensyukuri segala sesuatu pemberian sebagai nikmat dariNya, termasuk hidung gede, yak dik Aya?
Nggih, sumuhun atuh abah, aya aya wae....

Monday, January 14, 2008

Jangan Bubarkan Lembaga Sensor

Tuntutan Masyarakat Film Indonesia agar Lembaga Sensor Film (LSF) dihapus sungguh menggelikan. Kendati demikian, bagi yang mencermati tren aktual perfilman nasional, ide penghapusan LSF yang mereka usung bukan hal aneh.

Maklum saja, film yang mereka buat hingga saat ini belum juga beranjak dari hal-hal berbau seks bebas (free sex) dan tahayul. Film karya anak muda “kreatif” yang katanya lulusan sekolah film luar negeri itu kalau tidak bertema percintaan remaja ala barat (lengkap dengan keberanian beradegan ciuman, free-sex), biasanya tentang hantu gentayangan, mayat bangkit dari kubur, dsb.

Masyarakat, khususnya para orangtua yang memiliki anak beranjak remaja, tentunya akan mengernyitkan dahi menyaksikan “kreativitas” pekerja film. Betapa tidak, film yang banyak dipuji sebagai karya kreatif ternyata belum juga beranjak dari eksploitasi pornogafi dan tahayul berbalut "suspense-horror" ala "Suster Ngesot" atau "Jelangkung" tsb.

Sepengetahuan saya, karakteristik film selain sebagai media hiburan juga memiliki kekuatan memengaruhi opini, sikap, bahkan perilaku penontonnya. Hal mana merupakan sebagian alasan masih diperlukannya LSF. Tentu masih ada sederet hal lain yang memperkuat argumen pentingnya mempertahankan keberadaan LSF. Itu semua demi kemaslahatan orang banyak ketimbang sekadar memuaskan obsesi segelintir sineas muda yang tidak ingin diatur dalam memuaskan selera semata.

Saran saya untuk para sineas muda, silakan berkarya secara lebih kreatif lagi. Syukur jika karya dimaksud juga mengandung unsur mendidik. Lumayan, buat penyegar dahaga bangsa yang sedang "sakit" ini. Bukan sekadar adegan percintaan anak muda yang "berani". Atau hantu jadi-jadian penyubur tahayul pemupuk sifat penakut. Intinya, tidak perlu merasa gerah dengan keberadaan lembaga sensor. Di sini anda masih tetap bebas berkreasi kok, selama tidak memaksakan nilai-nilai ke orang lain (masyarakat penonton film)...
@bah