Friday, February 22, 2008

Menahan diri, bisakah

Bersabar. Sungguh sebuah kata yang mudah diucapkan namun sulit dilaksanakan justru ketika kita memerlukannya. Itu yang saya alami Rabu petang (20/2) pas azan mahrib berkumandang.

Waktu itu semangat menggebu dipicu rasa kangen pada seisi rumah mendadak berubah menjadi rasa lemas berbaur dengan emosi karena dua buah hati tengah asyik di depan teve. Entah kenapa petang itu kedua anak melanggar SOP di rumah kami, yakni dilarang menyalakan teve pas azan sekaligus tidak ada tayangan teve sesudah maghrib kecuali hari libur.

Merasa paling benar, lantas keduanya diberi peringatan keras agar segera mematikan pesawat teve. "Jika tidak langganan Astro diputus, tidak ada acara nonton teve untuk waktu yang akan diatur kemudian," begitu kira-kira pernyataan yang terlontar malam itu.

Reaksi keduanya?
Si Aa langsung memasang ekspresi muka masam seraya beranjak ke kamar dan langsung menelungkupkan badan di kasur. Untung tidak ada aksi banting pintu seperti biasa kalau dia lagi ngamuk. Sementara si kecil masih bertahan di depan teve dengan dalih "habis ini udah kok bah."

Melihat "aksi pembangkangan" emosi pun meluap, dan tak tetahankan bentakan pun terlontar.
Astaghfirullah, lagi-lagi emosi tak terbendung. Si adik melengos dan ikut-ikutan kakaknya masuk kamar. Refleks tangan ini mematikan teve, mencabut kabel dari steker, dan melempar remote control ke keranjang cucian.

Persoalan beres? Rupanya tidak. Karena kini saya berhadapan dengan dua jiwa belia yang ngambek dan tidak habis pikir "kok nonton sebentar 'aja nggak boleh...", begitu kira-kira dalam benak Aa dan dik Frida.

Tidak mudeh memang menghadapi situasi ini. Seperti disinggung di atas, kesabaran mudah diucapkan, diyakini kebenarannya, namun justru sangat tidak mudah untuk melaksanakannya.

Alhamdulillah, keadaan tidak berlarut-larut. Keesokan pagi harinya Aa dan dik Frida bangun pagi dengan ceria, pergi mandi, sarapan segelas susu hangat, dan berangkat ke sekolah dibonceng ojek abah...

Kata Ummi Nur, sore sepulang sekolah kedua anak menanyakan perihal larangan nonton teve malam hari selain hari libur. "Teman Aa ada yang boleh nonton sampai malam kok Mi," kata si cikal Haidar.

Untungnya Ummi Nur dengan bijak menjelaskan, "Tentu saja, bisa jadi di rumah teman Aa boleh, masalahnya peraturan di masing-masing rumah kan bisa berbeda," kata Ummi. Ada yang sepakat membatasi acara nonton teve, ada pula yang membolehkan teve menyala sepanjang hari dan malam meski sedang tidak ditonton sekalipun.

Subhanallah, si Aa menerima penjelasan panjang lebar Umminya. Buktinya, wajah Aa, apalagi dik Frida, kembali sumringah tatkala abahnya pulang Kamis petang harinya. Alhasil, emosi yang sempat meruyak, kemarahan yang pernah tak tertahankan sebetlnya sia-sia jua. Toh, dua permata hati masih menyisakan ruang untuk sebuah logika berupa penjelasan dari kedua orangtuanya. Hal lain, mereka tetap saja polos dan pandai memaafkan abahnya yang suka tidak sabaran, mudah emosi...

Ya Rabb, masukanlah hamba ke dalam kelompok mereka yang selalu mengutamakan kesabaran dalam segala hal. Sesungguhnya engKau senantiasa bersama orang yang sabar...

1 comment:

roel musthafa said...

subhanallah..
terkadang istri memang lebih sabar dari kita.
dan untungnya aa zen dan dik frida bisa mengerti..
jadi kangen dengan si Aa..inget pernah main bola bareng..salam bah.

ayo kapan kita tetanggaan